M. FAIZIN AL ANSORI
Ada hal-hal yang baru terasa maknanya setelah kita benar-benar menjalaninya. Salah satunya: hari Rabu. Dalam Ta’lim Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji, ada nasihat yang unik sekaligus menenangkan: memulai suatu kegiatan pada hari Rabu adalah anjuran yang baik, karena hari tersebut punya keistimewaan. Dulu, aku menganggapnya sekadar kalimat klasik dalam kitab. Tapi ternyata, di Desa Sumberdem, nasihat itu seperti “hidup” dan menjelma menjadi pengalaman nyata. Kami, mahasiswa KKM Astra Pradhipta 73, melaksanakan pengabdian di Dusun Durengede (Ngemplak) dan Sumberingin, Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, sejak 23 Desember hingga 04 Februari. Mengusung tema besar KKM Berdampak, kami membawa tiga program unggulan: pengembangan UMKM, pencegahan stunting, dan moderasi beragama. Namun, dari sekian banyak kegiatan, ada satu rutinitas yang paling melekat di kepala dan (jujur) paling terasa di punggung: kerja bakti pembangunan wisata sungai di Kampoeng KRPL—setiap hari Rabu. Sungai Itu Indah, Tapi Jalannya… Bikin Tobat Awal mula kami terlibat dalam pembangunan wisata ini terjadi saat pertama kali bersilaturahmi dengan Ketua Pokdarwis Kampoeng KRPL. Dari beliau kami tahu, setiap hari Rabu para pemuda desa dan bapak-bapak aktivis desa rutin kerja bakti membangun wisata desa. Wisata yang dimaksud adalah wisata air yang berada di balik pemukiman warga. Kedengarannya sederhana, tapi kenyataannya… jalannya tidak ramah sama sekali. Sungainya tersembunyi, menjorok ke bawah, dan dikelilingi hutan yang masih alami. Aksesnya masih berupa jalan setapak yang licin, curam, dan rawan terpeleset. Waktu pertama kali turun, beberapa dari kami sempat terdiam, bukan karena kagum—tapi karena sedang menimbang: “Ini beneran jalan atau jalur ujian hidup?” Tapi anehnya, rasa takut itu bercampur bangga. Karena kami sadar: kami termasuk orang-orang pertama yang ikut membuka jalan menuju potensi besar desa. Mengangkat Batu, Mengangkat Harapan Pada Rabu pertama, tugas kami cukup “legendaris”: mengambil batu-batu besar dari dasar sungai untuk dijadikan pondasi tangga akses menuju lokasi wisata. Kami berjajar membentuk barisan. Batu-batu itu dioper dari bawah ke atas dengan penuh kehati-hatian. Medannya licin, kaki sering selip, tangan pegal, tapi kami tetap lanjut. Di sisi lain, bapak-bapak warga fokus mencangkul tanah, membentuk anak tangga, dan merapikan jalur. Di momen itu kami belajar: membangun wisata desa itu bukan soal konsep besar di atas kertas, tapi tentang hal-hal sederhana seperti: membersihkan jalur menata batu memperkuat akses dan yang paling penting: konsisten datang kembali Rabu berikutnya, kami kembali ke lokasi yang sama. Kali ini untuk menata batu-batu tadi menjadi pondasi tangga sesuai arahan warga yang sudah lebih berpengalaman. Dari sini kami paham, membangun itu bukan tentang kecepatan, tapi tentang ketepatan dan kesabaran. Tiga Minggu, Satu Tempat, dan Banyak Pelajaran Selama kurang lebih tiga sampai empat minggu, setiap hari Rabu kami “bertemu lagi” dengan tempat yang sama. Fokus kerja pun berkembang. Mulai dari: memperkuat akses jalan menghias jalur masuk dengan tanaman membantu pendirian gazebo sederhana hingga merapikan titik-titik yang akan jadi area istirahat Di sela istirahat, Ketua Pokdarwis sering menjelaskan konsep wisata ini. Ternyata, wisata sungai ini tidak hanya akan menjadi wisata air, tetapi juga dikembangkan sebagai wisata edukasi dan perkebunan. Konsepnya menarik: pengunjung bisa memanen sayuran dan tanaman masyarakat, lalu mengolahnya langsung dalam cooking class. Jadi bukan sekadar wisata “lihat-lihat”, tapi wisata yang: memberi nilai edukasi menghidupkan pertanian warga dan membuka peluang UMKM baru Bisa dibayangkan, kalau wisata ini berkembang, maka akan muncul banyak peluang: warung makan, produk olahan, jasa pemandu, hingga penjualan hasil tani. Istiqomah Itu Ternyata… Datang Lagi dan Lagi Kalau ditanya pelajaran paling kuat dari kegiatan ini, jawabannya adalah satu: istiqomah. Dalam Islam, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit.” Dan kami merasakan sendiri maknanya. Kerja bakti itu bukan acara seremonial. Tidak ada panggung. Tidak ada spanduk besar. Bahkan tidak ada “tepuk tangan penonton”. Yang ada hanya: tanah batu keringat dan orang-orang yang tetap datang setiap Rabu Masyarakat Desa Sumberdem mengajarkan bahwa membangun desa bukan soal hasil instan, tapi soal kesungguhan untuk terus kembali dan melanjutkan. Pulang dengan Baju Kotor, Tapi Hati Bersih Setiap selesai kerja bakti, kami pulang dengan tubuh kotor oleh tanah dan keringat. Kadang tangan pegal. Kadang kaki lecet. Kadang baju penuh lumpur. Tapi entah kenapa, hati terasa lebih ringan. Kami sadar, pengabdian sejati sering dimulai jauh dari keramaian. Di tempat yang sepi, licin, dan melelahkan. Tapi justru di sanalah harapan tumbuh. Di Kampoeng KRPL, kami belajar bahwa:membangun desa bukan tentang “datang lalu selesai”, tapi tentang “datang, kembali, lalu terus melanjutkan”. Penutup: Rabu yang Tak Lagi Sama Sekarang, setiap mendengar kata “Rabu”, kami tidak lagi mengingatnya sebagai hari biasa. Kami mengingat sungai, batu, tangga, hutan, gazebo, dan gotong royong. Kami mengingat bagaimana warga desa mengajarkan bahwa sebuah wisata desa, UMKM, bahkan harapan, semuanya dimulai dari langkah kecil. Dan kami bersyukur pernah menjadi bagian dari langkah kecil itu. Tabik… Salam hangat dari KKM Astra Pradhipta 73
GUNAWAN
Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 50 Astraya melaksanakan program kerja berupa kegiatan sosialisasi tentang bullying serta kebersihan dan kesehatan pada hari Senin dan Selasa. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lembaga pendidikan, yakni SDN 01 Sidomulyo pada Senin, 12 Januari 2026, dan MI Al Hidayah Sidomulyo pada Selasa, 13 Januari 2026, dengan melibatkan siswa-siswi serta guru pendamping. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sejak dini mengenai bahaya perilaku bullying serta pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Materi yang disampaikan meliputi bahaya konsumsi minuman kemasan, risiko penyakit cacingan, pentingnya mencuci tangan dengan benar, serta pemahaman mengenai bullying dan dampaknya terhadap lingkungan sekolah. Pemateri dalam kegiatan ini berasal dari perwakilan mahasiswa KKM 50 Astraya. Materi mengenai bahaya minuman kemasan disampaikan oleh saudara Rafi, yang menjelaskan dampak negatif konsumsi minuman kemasan secara berlebihan terhadap kesehatan anak. Selanjutnya, materi tentang penyakit cacingan disampaikan oleh saudara Gunawan, yang memaparkan penyebab, dampak, serta cara pencegahan cacingan melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sementara itu, materi mengenai bullying disampaikan oleh saudara Ibrahim, yang menjelaskan bentuk-bentuk bullying, dampaknya bagi korban, serta pentingnya saling menghargai dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh para siswa. Penyampaian materi dilakukan dengan metode yang interaktif dan mudah dipahami, seperti penjelasan sederhana, tanya jawab, serta praktik langsung cara mencuci tangan yang baik dan benar. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami dan menerapkan materi yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh ketua kelompok KKM 50 Astraya dan dilanjutkan juga dengan pembukaan dari perwakilan salah satu guru di setiap Lembaga. Setelah itu, dilanjutkan dengan pemaparan materi sosialisasi, praktik cuci tangan, serta sesi diskusi bersama siswa. Para guru dan pihak sekolah turut mendampingi jalannya kegiatan dan memberikan dukungan penuh terhadap program yang dilaksanakan. Kegiatan sosialisasi ini berlangsung dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari pihak sekolah. Melalui program kerja ini, diharapkan siswa-siswi SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjauhi perilaku bullying dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
ADAM FATIN
Kopi sering jadi teman setia mahasiswa saat mengerjakan tugas atau begadang. Namun, melalui kegiatan KKM Kelompok 73 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kami belajar bahwa kopi memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya tersaji di cangkir. Dalam rangkaian program KKM, kami melakukan kunjungan edukatif ke Kebun Kopi KRPL di Desa Sumberdem. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengenalan dan penguatan potensi lokal desa, sekaligus sebagai sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa di luar ruang kelas. Kegiatan diawali dengan pengenalan tahap pembibitan kopi. Kami belajar mulai dari pemilihan biji kopi yang berkualitas, proses penyemaian, hingga perawatan bibit agar siap ditanam. Dari tahap awal ini, kami memahami bahwa kualitas kopi sangat ditentukan sejak proses pembibitan, bukan hanya saat panen. Selanjutnya, kami diajak berkeliling kebun untuk melihat langsung proses penanaman dan perawatan tanaman kopi. Warga Kampung KRPL menjelaskan cara pemupukan, pengendalian hama, serta pentingnya menjaga keseimbangan alam dalam pengelolaan kebun. Proses ini menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal dan pengalaman warga berperan besar dalam menjaga kualitas hasil panen. Pembelajaran berlanjut hingga proses panen dan pascapanen. Kami mempelajari cara menentukan buah kopi yang sudah matang, teknik panen yang tepat, hingga proses pengeringan dan penyortiran biji kopi agar siap dijual. Tahapan ini membuka wawasan kami bahwa kopi yang memiliki nilai jual tinggi membutuhkan ketelitian dan konsistensi dalam setiap prosesnya. Melalui kegiatan ini, kebun kopi KRPL Desa Sumberdem tidak hanya berfungsi sebagai lahan pertanian, tetapi juga sebagai kelas alam yang memberikan pembelajaran nyata tentang pemberdayaan masyarakat desa. Bagi Kelompok KKM 73 UIN Malang, kunjungan ini menjadi pengalaman berharga dalam memahami peran mahasiswa sebagai agen pengabdian yang belajar langsung dari masyarakat. Kegiatan KKM ini mengajarkan kami bahwa pengabdian bukan sekadar memberi, tetapi juga belajar, mendengar, dan menghargai potensi lokal. Dari Desa Sumberdem, kami belajar bahwa secangkir kopi menyimpan cerita tentang kerja keras, kolaborasi, dan kearifan lokal yang patut dijaga dan dikembangkan.
ALFRIDA RESTI WARDANI
Program KKM HIPE Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan sukses mewujudkan calon jemaah haji yang lebih sehat, bahagia, dan isti'taah. Program KKM HIPE sendiri merupakan kolaborasi antara program studi kedokteran dan farmasi yang dilaksanakan selama 1 bulan dengan berhasil melaksanakan beberapa program seperti intervensi, jalan sehat gembira, dan edukasi dalam berbagai media, seperti poster, buku saku, dan jurnal monitoring. Program ini sangat membantu dan bermanfaat untuk CJH dalam mempersiapkan keberangkatan ke tanah suci. CJH merasa sangat senang dan bahagia dengan diadakannya program ini, melalui program ini CJH merasa lebih mendalami dan memperhatikan terkait kesehatannya dan juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terkait beberapa penyakit dan cara mengatasinya atau mengendalikannya. Program jalan sehat gembira memberikan kontribusi nyata pada CJH terutama dalam kesehatan fisik, agar CJH lebih siap dan bugar saat melaksanakan ibadah haji. Menurut saya dan teman2 program ini membuat kita lebih bertanggung jawab dan belajar bagaimana terjun langsung kepada masyarakat melalui intervensi dan jalan sehat gembira. Semoga Bapak Ibu CJH dapat menjadi haji yang mabrur dan Program KKM HIPE lebih baik, maju, dan sukses.
SHIELA ADHISTIA MAKRUF
Dalam kegiatan KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa), kelompok 37 berkesempatan mendampingi seorang CJH (Calon Jamaah Haji) berusia 72 tahun dengan riwayat hipertensi dan hiperurisemia. Penyakit tidak menular seperti hipertensi dan hiperurisemia masih banyak dijumpai di masyarakat, khususnya pada kelompok usia lanjut yang menjadi salah satu faktor risiko. Kondisi ini membutuhkan suatu intervensi salah satunya dapat dilakukan dengan perubahan pola hidup sehat secara bertahap dan monitoring mingguan untuk mengetahui perkembangannya. Kunjungan terhadap CJH dilaksanakan secara langsung di kediaman rumah CJH, yang dilakukan 1x per minggu selama 1 bulan dengan pemberian media intervensi yang terdiri dari poster, booklet, dan video edukasi. Media poster dan booklet berguna untuk memberikan edukasi terkait pengurangan konsumsi garam, makanan tinggi purin, serta konsumsi obat secara teratur sedangkan pemeriksaan monitoring mingguan untuk pemantauan. Pemeriksaan monitoring yang dilakukan antara lain pemeriksaan tekanan darah sebagai parameter HTN dan POCT (Point of Care Testing), seperti asam urat, gula darah, dan kolesterol yang dicatat di buku pemeriksaan kesehatan monitoring mingguan. Setiap hasil pemeriksaan yang dicatat akan dibandingkan dengan hasil minggu sebelumnya. Selain itu, juga dilakukan interpretasi hasil pemeriksaan mingguan kepada CJH dan edukasi lanjutan. Seiring berjalannya waktu, terlihat adanya peningkatan kesadaran terhadap pentingnya pola hidup sehat. Hal tersebut tampak dari adanya peningkatan pengisian booklet journaling harian, terkait penerapan pola makan sehat sesuai prinsip diet DASH, keteraturan dalam minum obat, dan aktivitas fisik rutin secara harian yang telah disesuaikan dengan kondisi kesehatan CJH. Melalui pengalaman ini, saya menyadari bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar menjalankan program kerja, melainkan membangun komunikasi, hubungan, dan kepercayaan melalui sikap berempati, suportif, dan mendampingi dengan hati yang hangat.
MUHAMMAD MULLA AKIF AL QORNI
Kunjungan hari ini sangat menyenangkan katena diramaikan cucu dari CJH yang lucu lucu