ANNISA PRIMA DINATA
Edukasi pengelolaan sampah diselenggarakan oleh Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 84 UIN Malang di dua sekolah dasar di Kecamatan Dampit. Kegiatan pertama dilaksanakan di SDN 002 Dampit pada Rabu (14/01/26), sedangkan kegiatan kedua digelar di SDN 003 Dampit pada Sabtu (24/01/26). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang benar serta menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Dalam edukasi ini, siswa diperkenalkan dengan jenis-jenis sampah, yaitu sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3), beserta contoh-contohnya. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM mengajak siswa untuk melakukan praktik langsung memilah sampah. Tiga tempat sampah disediakan sesuai dengan kategori sampah organik, anorganik, dan B3, sehingga siswa dapat secara langsung berpikir dan menentukan jenis sampah yang harus dibuang ke tempat yang tepat. Metode praktik ini dipilih agar siswa lebih mudah memahami materi dan terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan dan aktif saat praktik memilah sampah. Pihak sekolah memberikan respon positif serta mengapresiasi kegiatan ini karena dinilai mampu membentuk sikap peduli lingkungan dan melatih tanggung jawab siswa terhadap kebersihan sekolah. Melalui kegiatan edukasi pengelolaan sampah ini, KKM Kelompok 84 UIN Malang berharap siswa dapat menerapkan kebiasaan memilah sampah dengan benar, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, sehingga tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. https://www.kompasiana.com/afiyahhakim2360/698aa404ed64153d0b167ee2/tumbuhkan-kepedulian-lingkungan-sejak-dini-kkm-kelompok-84-uin-malang-gelar-edukasi-pengelolaan-sampah-di-dampit?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile
FITHROTIN AFIYAH
Edukasi peningkatan kemampuan bercerita diselenggarakan oleh Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 84 UIN Malang bekerja sama dengan komunitas Ruang Cerita dari mahasiswa UIN Malang jurusan Psikologi. Kegiatan ini dilaksanakan di dua sekolah dasar di Kecamatan Dampit, yakni di SDN 002 Dampit pada Selasa (27/01/26) dan di SDN 003 Dampit pada Sabtu (31/01/26). Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, serta daya imajinasi siswa sejak dini melalui metode belajar yang menyenangkan. Edukasi bercerita dipilih sebagai sarana untuk mendorong anak agar berani mengungkapkan ide, perasaan, dan pengalaman mereka secara lisan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM dan tim Ruang Cerita menggunakan media permainan ular tangga sebagai alat bantu pembelajaran. Cara bermain dilakukan seperti permainan pada umumnya, di mana setiap siswa mengocok dadu dan melangkah menuju angka terakhir. Namun, pada kotak tertentu yang telah diberi tanda, siswa diwajibkan mengambil kartu berisi pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirancang untuk merangsang imajinasi dan mendorong siswa bercerita sesuai dengan tema yang tertera pada kartu. Para siswa tampak antusias mengikuti permainan dan berani menyampaikan cerita di depan teman-temannya. Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh keceriaan. Pihak sekolah memberikan respon positif serta mengapresiasi metode pembelajaran kreatif yang dinilai mampu meningkatkan keberanian dan kemampuan berbicara siswa. Melalui edukasi ini, KKM Kelompok 84 UIN Malang berharap siswa dapat semakin percaya diri dalam bercerita, mampu mengekspresikan diri dengan baik, serta memiliki keterampilan komunikasi yang bermanfaat bagi perkembangan akademik dan sosial mereka. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Asah Kepercayaan Diri dan Imajinasi Anak, KKM Kelompok 84 UIN Malang Gelar Edukasi Peningkatan Kemampuan Bercerita di Dampit", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/afiyahhakim2360/698aa723c925c435e96505c2/asah-kepercayaan-diri-dan-imajinasi-anak-kkm-kelompok-84-uin-malang-gelar-edukasi-peningkatan-kemampuan-bercerita-di-dampit?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile Kreator: Fithrotin Afiyah
HILWA IZZATI WAFA
Mengajar dengan Hati di SDN 4 Sukomulyo Selama menjalani KKM di Desa Sukomulyo, Dusun Gumul, Kecamatan Pujon, Malang, ada satu tempat yang selalu membuatku merasa hangat setiap pagi: SDN 4 Sukomulyo. Sekolah sederhana yang berdiri di tengah suasana desa yang sejuk itu menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagiku. Aku datang sebagai mahasiswa KKM yang ingin mengabdi, tetapi justru pulang membawa begitu banyak pelajaran kehidupan. Langkah Pertama di Gerbang Sekolah Hari pertama masuk kelas, aku merasakan campuran rasa gugup dan antusias. Berdiri di depan siswa-siswi SD bukan hal yang mudah. Tatapan polos mereka membuatku sadar bahwa apa yang aku sampaikan akan mereka dengarkan dengan sungguh-sungguh. Aku mendapat kesempatan mengajar beberapa kelas, salah satunya kelas 3 untuk mata pelajaran Matematika. Materi bangun datar yang awalnya terlihat sederhana ternyata membutuhkan kreativitas agar mudah dipahami. Aku mencoba tidak hanya menjelaskan lewat papan tulis. Kami menggambar bersama, mencari bentuk persegi dan segitiga di sekitar kelas, bahkan bermain kuis kecil. Ketika mereka mulai tertawa dan berani mengangkat tangan, aku tahu suasana belajar mulai terasa menyenangkan. Belajar Memahami Setiap Karakter Setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ada yang aktif dan selalu ingin menjawab. Ada yang pendiam namun sebenarnya sangat memperhatikan. Ada yang mudah terdistraksi dan perlu diajak bicara secara personal. Awalnya aku sempat kewalahan. Tapi pelan-pelan aku belajar untuk tidak menyamaratakan cara mengajar. Aku belajar bahwa kesabaran adalah kunci. Mengulang penjelasan bukan tanda kegagalan, tetapi bentuk kepedulian. Di situlah aku benar-benar memahami bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi tentang membangun kedekatan dan rasa aman bagi siswa. Program Adiwiyata: Menanamkan Cinta Lingkungan Selain mengajar di kelas, aku juga terlibat dalam program Adiwiyata di SDN 4 Sukomulyo. Bersama siswa-siswi, kami belajar tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Kami mengajak mereka memilah sampah, menjaga kebersihan kelas, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya ternyata menjadi pembelajaran karakter yang besar. Melihat mereka mulai sadar dan saling mengingatkan temannya untuk menjaga kebersihan menjadi momen yang sangat membahagiakan bagiku. Momen-Momen Sederhana yang Berarti Ada satu hal yang selalu aku ingat: setelah jam pelajaran selesai, beberapa siswa sering mendekat hanya untuk bercerita. Tentang keluarga mereka, tentang cita-cita, bahkan tentang hal-hal kecil yang mereka alami di rumah. Di Dusun Gumul yang tenang itu, aku menyadari bahwa pendidikan bukan hanya terjadi di dalam buku, tetapi dalam percakapan sederhana dan perhatian kecil. Sekolah ini mungkin tidak memiliki fasilitas selengkap sekolah di kota besar, tetapi semangat belajar anak-anaknya luar biasa. Mereka datang dengan wajah cerah dan rasa ingin tahu yang tinggi. Dan itu sudah lebih dari cukup. Refleksi Pribadi Mengajar di SDN 4 Sukomulyo membuatku belajar banyak tentang diriku sendiri. Aku belajar mengelola emosi. Aku belajar berbicara dengan lebih sabar. Aku belajar bahwa perubahan tidak harus besar untuk menjadi bermakna. KKM ini memang hanya berlangsung selama 40 hari, tetapi pengalaman di SDN 4 Sukomulyo akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku. Di Desa Sukomulyo, Dusun Gumul, Kecamatan Pujon, aku menemukan bahwa pengabdian bukan sekadar program kerja. Ia adalah tentang kehadiran, ketulusan, dan kemauan untuk tumbuh bersama. Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar berdiri sebagai seorang pendidik, aku ingin selalu mengingat kelas kecil di SDN 4 Sukomulyo, tempat di mana aku pertama kali belajar mengajar dengan hati.
SITI UMRAH LAMOWA
Kegiatan pengajaran Bahasa Arab menjadi salah satu program Pendidikan yang dilaksanakan oleh KKM 81 Abhinaya Bhakti selama masa pengabdian di Desa Ngadilangkung. Program ini dilaksanakan di dua Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), yaitu TPQ Khoirun Najwa dan TPQ Darul Muttaqin, sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembelajaran keagamaan bagi anak-anak. Pengajaran Bahasa Arab di TPQ Khoirun Najwa dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu dan Jumat. Kegiatan ini diikuti oleh santri TPQ dengan antusias, terutama karena materi yang disampaiakn menggunakan metode yang mudah dipahami dan sederhana seperti bernyanyi dan menggunakan flash card. Hal ini diupayakan oleh mahasiswa KKM untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar santri lebih mudah memahami kosakata dasar Bahasa Arab. Sementara itu, pengajaran Bahasa Arab di TPQ Darul Muttaqin dilaksanakan setiap hari Selasa dan Kamis. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM mendampingi santri dalam pelafalan Bahasa Arab yang benar. Kegiatan ini juga dikombinasikan dengan latihan membaca dan pengulangan bersama untuk mrningkatkan pemahaman santri. Metode pengajaran yang dipakai juga sama dengan menggunakan lagu dan flash card, serta memberikan hadiah berupa snack sebagai bentuk apresiasi kepada santri yang telah berani menjawab soal pertanyaan. Melalui kegiatan pengajaran ini, KKM 81 Abhinaya Bhakti berharap dapat membantu meningkatkan minat belajar santri terhadap Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk berperan aktif dalam dunia Pendidikan keagamaan di lingkungan masyarakat desa. Program pengajaran Bahasa Arab di dua TPQ ini mendapat respon positif dari pengurus TPQ dan para santri. Keharidan mahasiswa KKM dinilai mampu memberikan warna baru dalam proses pembelajaran serta mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat, khususnya dalam bidang Pendidikan dan keagamaan.
MUHAMMAD DIMAS MAULANA
Kediri, 11 Januari 2026 - Pagi yang cerah di Desa Klampisan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, menjelma menjadi ruang belajar terbuka yang sarat semangat dan kebersamaan. Mahasiswa KKM 109 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadirkan kegiatan unggulan berupa pelatihan pembuatan pupuk kompos, sebuah program yang selaras dengan tema besar KKM 109, yakni ekoteologi---pandangan bahwa merawat bumi merupakan bagian dari nilai ibadah sekaligus tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kegiatan diawali dengan senam pagi bersama yang diikuti oleh ibu-ibu Desa Klampisan serta beberapa pengurus Pondok Bahrul Ulum Klampisan. Gerak yang serempak, tawa yang mengalir, dan suasana penuh keakraban menjadi pembuka yang hangat. Senam pagi tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas penyegar tubuh, tetapi juga menjadi simbol awal kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat. Usai senam, peserta disuguhi hidangan sederhana berupa buah-buahan segar dan kolak kacang hijau. Sajian ini menjadi pelengkap suasana santai, menghadirkan ruang interaksi yang cair dan penuh kehangatan. Obrolan ringan yang terjalin secara alami semakin mempererat hubungan antara mahasiswa KKM 109 dan warga Desa Klampisan. Memasuki agenda utama, pelatihan pembuatan pupuk kompos dipandu oleh Muhammad Dimas Maulana, yang menyampaikan materi dengan gaya komunikatif dan mudah dipahami. Peserta diajak mengenal konsep dasar kompos, manfaatnya bagi kesuburan tanah dan lingkungan, hingga praktik langsung mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pupuk yang bernilai guna. Antusiasme peserta terlihat jelas dari keterlibatan aktif, banyaknya pertanyaan, serta semangat mencoba di setiap tahapan pelatihan. Pelatihan ini menjadi bukti bahwa program unggulan KKM 109 tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Melalui pendekatan ekoteologi, mahasiswa mengajak masyarakat untuk memaknai pengelolaan sampah dan pelestarian alam sebagai bentuk amanah moral dan spiritual yang harus dijaga bersama. Rangkaian acara berlangsung meriah dari awal hingga akhir. Wajah-wajah antusias dan semangat belajar para peserta menjadi gambaran keberhasilan kegiatan ini. Harapannya, pelatihan pupuk kompos dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Klampisan, khususnya dalam mengelola limbah organik secara bijak dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Dari senam pagi hingga praktik pengomposan, KKM 109 UIN Malang menghadirkan pengabdian yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga inspiratif---menegaskan bahwa merawat bumi sejatinya adalah bagian dari merawat kehidupan itu sendiri.
ANNISA KHOIROMZUL FAUZIYAH
Poncokusumo, Kabupaten Malang — Rabu, 23 Desember 2025, Balai Desa Poncokusumo dipenuhi suasana hangat dan penuh harapan. Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang secara resmi membuka kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) sebagai tanda dimulainya masa pengabdian mereka di tengah masyarakat desa. Desa Poncokusumo terletak di kawasan kaki Gunung Bromo dan dikenal sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Malang. Keindahan alam pegunungan, udara sejuk, hamparan kebun jeruk, serta berbagai destinasi wisata alam menjadi kekuatan utama desa ini. Secara pembangunan, Poncokusumo tergolong desa yang maju dan aktif, dengan masyarakat yang terbuka terhadap perubahan dan kolaborasi. Namun demikian, potensi besar tersebut masih menyimpan tantangan, terutama dalam pengembangan dan pemasaran UMKM lokal agar mampu bersaing dan dikenal lebih luas. Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 28 dengan nama tim LASKARA terdiri dari 6 mahasiswa laki-laki dan 9 mahasiswa perempuan. Selama kurang lebih 40 hari , mereka akan berbaur, belajar, dan bekerja bersama masyarakat Desa Poncokusumo melalui berbagai program kerja berbentuk pengabdian yang disusun dan direncanakan. Pembukaan KKM dilaksanakan di Balai Desa Poncokusumo dan dihadiri oleh perangkat desa, termasuk Kepala Dusun yang akrab disapa Pak Yudi, dosen pembimbing lapangan (DPL) Bapak Achmad Busiri, M.Pd.I., perwakilan masyarakat, serta seluruh mahasiswa peserta KKM. Acara berlangsung dengan tertib dan penuh keakraban, mencerminkan semangat kebersamaan sejak hari pertama. Dalam sambutannya, pihak desa menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus harapan agar kehadiran mahasiswa KKM dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Program-program yang akan dijalankan diharapkan mampu mendukung potensi desa, baik dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, kesehatan, kebersihan lingkungan, maupun pemberdayaan UMKM dan desa wisata. Bagi mahasiswa, KKM bukan sekadar pelaksanaan kewajiban akademik, tetapi juga ruang belajar yang nyata tentang kehidupan bermasyarakat. Dari Desa Poncokusumo, mereka belajar tentang empati, kerja sama, dan makna pengabdian. Dengan dibukanya secara resmi kegiatan KKM ini, Kelompok KKM 28 ini memulai perjalanan pengabdian dengan harapan dapat meninggalkan manfaat dan kesan positif yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.