Thumbnail
2 months ago
QRIS Dorong Digitalisasi Transaksi UMKM di Desa Mulyoarjo

MUHAMMAD KHOIRUL IRFAN ALBAZURI

MULYOARJO, LAWANG — Dalam upaya mendukung digitalisasi sistem pembayaran di tingkat desa, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 104 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan sosialisasi sekaligus pendampingan pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi pelaku UMKM di Desa Mulyoarjo, Dusun Ampel Gading. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk adaptasi masyarakat desa terhadap perkembangan teknologi transaksi non-tunai yang kian marak digunakan.       Desa Mulyoarjo memiliki letak yang cukup strategis karena berada tidak jauh dari Pasar Lawang, pasar yang dikenal ramai dan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Di Dusun Ampel Gading sendiri, khususnya di sekitar posko KKM, terdapat sekitar tujuh warung aktif yang selama ini masih menggunakan sistem pembayaran tunai sepenuhnya. Berdasarkan hasil observasi lapangan, belum ada satu pun warung yang memanfaatkan QRIS sebagai metode pembayaran digital.       Sebagian pedagang mengaku masih mengalami kendala dalam penggunaan teknologi, mulai dari keterbatasan pemahaman digital, kebingungan dalam proses pembuatan QRIS, hingga kekhawatiran akan penipuan atau penyalahgunaan sistem pembayaran digital. Kondisi tersebut menjadi latar belakang dilaksanakannya kegiatan sosialisasi QRIS yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung di lapangan.       Berbeda dengan program UMKM yang umumnya menitikberatkan pada pendampingan usaha dan pengembangan produk, kegiatan QRIS ini lebih difokuskan pada edukasi literasi keuangan digital. Mahasiswa KKM memberikan pemahaman mengenai fungsi QRIS sebagai metode pembayaran yang praktis, aman, dan efisien, serta menjelaskan cara kerja QRIS, manfaat penggunaannya, dan alur transaksi menggunakan aplikasi pembayaran yang tersedia di ponsel.       Sebagai bentuk tindak lanjut nyata, kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2026 dengan mendatangkan langsung pihak Bank BCA ke lokasi UMKM yang bersedia. Proses pembuatan QRIS dilakukan secara langsung di tempat, sehingga pedagang dapat memahami tahapan pendaftaran sekaligus penggunaan QRIS secara menyeluruh. UMKM pertama yang menjadi percontohan adalah Warung Cemal Cemil milik Pak Yanto, Ketua RW 14 Dusun Ampel Gading, yang bergerak di bidang penjualan jajanan.   Antusiasme terlihat jelas dari respons pedagang. Pak Yanto menyampaikan bahwa kehadiran QRIS akan sangat membantu kegiatan usahanya, terutama dalam melayani pesanan secara online dan menghadapi momen ramai seperti bulan Ramadhan.   “QRIS ini benar-benar akan membantu kami nanti, terkhusus pas bulan Ramadhan akan banyak pesanan yang datang,” ungkapnya.       Dampak awal dari kegiatan ini mulai terasa. Karena QRIS pertama kali diterapkan oleh Ketua RW setempat, banyak pedagang lain yang mulai tertarik dan terdorong untuk mengikuti langkah serupa. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan langsung dan contoh nyata di lapangan mampu membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital.   Ketua KKM 104, Dewantara, turut menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya adaptasi terhadap perkembangan zaman.   “Di zaman yang sudah serba modern, banyak orang yang sudah mengalokasikan uang tunai menjadi saldo digital. Karena lebih memudahkan dan juga lebih aman, maka penggunaan QRIS seharusnya menjadi hal yang lumrah sebagai bentuk menghargai perkembangan zaman,” ujarnya.       Melalui kegiatan sosialisasi dan pendampingan QRIS ini, mahasiswa KKM 104 UIN Malang berharap masyarakat Desa Mulyoarjo semakin terbuka dan melek terhadap digitalisasi, khususnya dalam bidang transaksi keuangan. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong inklusi keuangan serta mempermudah aktivitas ekonomi masyarakat desa agar mampu berkembang dan beradaptasi di tengah arus modernisasi.

Thumbnail
2 months ago
KKM 266 Unggulan PSGA UIN Maliki Dorong Pola Asuh Anak Ramah di Era Digital lewat Sosialisasi di Ketawanggede

ROSALINA CAHYA SAFITRI

 Serulingmedia.com — UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang terus memperkuat perannya dalam mendukung pengasuhan anak yang ramah dan berorientasi pada kebutuhan tumbuh kembang anak di era digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Pola Asuh Anak bertema “Menemukan Gaya Pengasuhan Terbaik untuk Si Kecil” yang digelar di Aula Kertosari, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Rabu (28/1/2025).Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Puspaga (Pusat Pembelajaran  Keluarga) Kelurahan Ketawanggede dengan KKM PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sosialisasi bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya guru dan wali murid PAUD, terkait pentingnya penerapan pola asuh anak yang tepat, aman, dan bebas kekerasan di tengah tantangan pengasuhan modern. Sosialisasi diikuti oleh Tim Penggerak PKK Kelurahan Ketawanggede, para guru PAUD, wali murid PAUD, serta masyarakat setempat. Keterlibatan UIN Maliki Malang melalui PSGA memberikan penguatan berbasis akademik dan keilmuan dalam upaya meningkatkan kualitas pengasuhan  keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lowokwaru, Ida Wahyuni, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai sosialisasi pola asuh anak sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Kegiatan ini sangat dibutuhkan, terutama bagi para orang tua, karena tantangan pengasuhan anak di era digital semakin kompleks. Edukasi seperti ini membantu orang tua agar tidak salah dalam menerapkan pola asuh,” ujarnya. Sosialisasi menghadirkan Ketua PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan masih banyak ditemukan kesalahan pola asuh di masyarakat, mulai dari minimnya interaksi emosional antara orang tua dan anak hingga kasus kekerasan yang berakar dari pengasuhan yang tidak tepat. [20:44, 2/11/2026] rosalina: “Saat ini masih banyak anak yang diasuh oleh gadget sejak usia dini, sehingga kedekatan emosional dengan orang tua berkurang. Selain itu, orang tua sering kali lebih mendengarkan pendapat orang lain dibanding memahami kebutuhan anaknya sendiri,” jelasnya. Hj. Aprilia Mega Rosdiana menekankan bahwa setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, pola asuh harus disesuaikan dengan kondisi anak agar dapat mendukung perkembangan karakter, kesehatan mental, serta kemampuan sosialnya secara optimal. Ia juga menegaskan bahwa pengasuhan yang baik bukan sekadar mengawasi, tetapi mendampingi anak dengan penuh kasih sayang dan kesadaran. Lingkungan keluarga yang aman dan suportif menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang sehat secara fisik dan psikologis. Kegiatan ini turut didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan KKM PSGA UIN Maliki Malang, Sheila Kusuma Wardani Amnesti, M.H. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dan dosen UIN Maliki Malang dalam kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. “Kegiatan sosialisasi ini menjadi wadah edukasi yang sangat penting bagi orang tua. Pola asuh yang baik tidak hanya mencegah kekerasan terhadap anak, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan anak,” ungkapnya. Melalui sinergi Puspaga Kelurahan Ketawanggede dan KKM PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola asuh positif, ramah anak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Upaya ini sekaligus menegaskan peran UIN Maliki Malang sebagai institusi  pendidikan tinggi yang aktif berkontribusi dalam membangun keluarga berkualitas dan generasi penerus bangsa yang unggul.

Thumbnail
2 months ago
The Journey of KKM Wirasenabadra: Menapaki Kaki Langit Desa Taji-Sebuah Perjalanan Profilisasi dan Harapan

FRANDIKA ARUNG AMOEKTI

Kuliah Kerja Mahasiswa(KKM) bukan hanya sekadar rangkaian program kerja, namun juga sebuah perjalanan pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan realita dalam kehidupan masyarakat secara langsung. Di tengah interaksi, kebersamaan, dan proses pengabdian yang dijalani, KKM menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar memahami, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat desa. Setiap langkah yang ditempuh tidak hanya meninggalkan jejak, tetapi juga memberikan pengalaman yang bermakna dan membentuk cara pandang dan kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar. Melalui tema "The Journey of KKM Wirasenabadra: Menapaki Kaki Langit Desa Taji-Sebuah Perjalanan Profilisasi dan Harapan", Kelompok Wirasenabadra (Kelompok 167) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yang melaksanakan KKM pada periode 28 Desember - 4 Februari, mendokumentasikan perjalanan selama pelaksanaan KKM di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Program profilisasi desa dipilih sebagai fokus utama untuk mengenalkan, mengangkat, dan mengembangkan potensi desa, melalui kegiatan pendidikan, keagamaan, dan kemasyarakatan.

Thumbnail
2 months ago
Bimbel Rutin hingga Lomba Cerdas Cermat: Jejak Kontribusi Mahasiswa KKM Kelompok 129 di Dusun Paras

AROFATUS SUKMA WAHYUDINILLAH

Pendidikan tidak selalu tumbuh dari ruang kelas yang formal. Di Dusun Paras, Kecamatan Poncokusumo, semangat belajar justru hidup dari ruang-ruang sederhana seperti posko Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Selama masa pengabdian, Mahasiswa KKM Kelompok 129 berupaya menghadirkan program pendidikan yang dekat, terbuka, dan relevan dengan kebutuhan anak-anak desa. Salah satu program utama yang dijalankan adalah bimbingan belajar (bimbel) rutin yang dilaksanakan selama empat minggu. Kegiatan ini berlangsung setiap hari Jumat dengan total empat kali pertemuan. Pertemuan pertama diawali dengan pembukaan dan pengenalan program, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran Bahasa Arab, Matematika, dan Bahasa Inggris pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Antusiasme anak-anak Dusun Paras terlihat tidak hanya pada jadwal bimbel yang telah ditentukan. Di luar waktu tersebut, banyak anak yang datang ke posko KKM untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR), bertanya mengenai materi sekolah, atau sekadar belajar bersama mahasiswa KKM. Posko pun berfungsi sebagai ruang belajar alternatif yang hangat dan inklusif. Selain fokus pada pendampingan belajar, mahasiswa KKM Kelompok 129 juga terlibat dalam kegiatan lomba cerdas cermat tingkat kecamatan. Program ini berawal dari inisiatif warga lokal yang menginginkan adanya kompetisi edukatif antar kelompok KKM se-Kecamatan Poncokusumo. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui kolaborasi lintas desa. Lomba cerdas cermat ini diketuai oleh Achmad Musyafiq selaku Ketua Kelompok KKM Weningga Wirabhana Dusun Paras. Kepanitiaan lomba merupakan gabungan dari beberapa desa di Kecamatan Poncokusumo, mencerminkan semangat kerja sama dan kebersamaan antar mahasiswa KKM. Kegiatan lomba dilaksanakan pada hari Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di MI Al-Amin Wonorejo. Acara dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan sambutan-sambutan, dilanjutkan dengan pertunjukan tari tradisional yang dibawakan oleh anak-anak Desa Wonorejo sebagai pembuka acara. Lomba cerdas cermat dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu babak penyisihan, semifinal, dan final. Peserta lomba berasal dari berbagai desa di Kecamatan Poncokusumo, antara lain Pandansari, Poncokusumo, Paras, Gubuk Klakah, Wringinanom, Ngadas, Wonorejo, dan beberapa desa lainnya. Mahasiswa KKM Kelompok 129 dari Dusun Paras mengirimkan tiga tim delegasi. Dua tim harus terhenti pada babak penyisihan, sementara satu tim lainnya berhasil melaju hingga babak final dengan perolehan skor yang memuaskan. Pada babak final, tersisa tiga tim yang berasal dari Desa Pandansari, Wringinanom, dan Dusun Paras. Hasil akhir lomba menetapkan Desa Wringinanom sebagai juara pertama sekaligus juara umum. Dusun Paras meraih juara kedua, sementara Desa Pandansari menempati posisi juara ketiga. Di sela-sela perlombaan, panitia juga menyisipkan pengenalan permainan tradisional sebagai upaya pelestarian budaya lokal dan penyegaran suasana. Seluruh rangkaian kegiatan lomba cerdas cermat berlangsung dengan lancar dan tertib. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang serta penyerahan penghargaan kepada para peserta. Melalui program bimbingan belajar dan partisipasi dalam lomba cerdas cermat ini, mahasiswa KKM Kelompok 129 tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga berupaya meninggalkan jejak kontribusi nyata di tengah masyarakat. Dusun Paras menjadi saksi bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan warga dapat melahirkan ruang belajar yang hidup, kompetitif, dan penuh kebersamaan.

Thumbnail
2 months ago
Digitalisasi UMKM Desa Kalirejo Melalui Pemasangan Banner dan Pendaftaran Google Maps oleh Mahasiswa KKN Kelompok 65 Malang Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Digitalisasi UMKM Desa Kalirejo Melalui Pemasangan Banner dan Pendaftara

AZIZUL MANAL WA FATKHU BAABIL WISHOL

Sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 65 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan pemasangan banner promosi serta pendaftaran lokasi usaha pada Google Maps di dua UMKM yang berada di Desa Kalirejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang pada Kamis, 29 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan branding dan digitalisasi UMKM lokal agar lebih dikenal oleh masyarakat luas. Pemasangan banner dilakukan sebagai media promosi visual yang dapat menarik perhatian konsumen secara langsung, sementara pendaftaran lokasi usaha di Google Maps bertujuan memudahkan pelanggan dalam menemukan lokasi UMKM secara daring. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama pemilik UMKM terkait desain banner yang sesuai dengan identitas usaha masing-masing. Setelah banner selesai dicetak, mahasiswa KKN Kelompok 65 melakukan pemasangan di lokasi usaha yang strategis dan mudah terlihat oleh masyarakat. Selanjutnya, dilakukan proses pendaftaran UMKM ke Google Maps dengan menginput data usaha, titik koordinat lokasi, informasi kontak, serta jam operasional usaha. Para pelaku UMKM menyambut baik kegiatan ini dan mengapresiasi peran mahasiswa KKN dalam membantu promosi dan digitalisasi usaha mereka. Salah satu pemilik UMKM menyampaikan bahwa sebelumnya usaha mereka belum terdaftar di platform digital, sehingga pelanggan luar daerah mengalami kesulitan dalam menemukan lokasi usaha. Dengan terlaksananya kegiatan ini, mahasiswa KKN Kelompok 65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap UMKM lokal di Desa Kalirejo dapat semakin dikenal, meningkatkan jumlah pelanggan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa secara berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung transformasi digital UMKM dan pengembangan potensi ekonomi masyarakat desa.

Thumbnail
2 months ago
Menanam Makna dalam Pengabdian : Menyatu dan Belajar Bersama di Desa Sukarara

AAS SITI AISAH

Sukarara, Lombok Tengah, Pengabdian mahasiswa melalui Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandiri di Desa Sukarara menjadi ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga pada proses membersamai masyarakat. Berangkat dari niat mengabdi, mahasiswa justru menemukan banyak pelajaran tentang sikap, nilai kebersamaan, dan cara memaknai peran sebagai pendatang di tengah kehidupan desa. Kehangatan Warga dalam Menyambut Kedatangan Berlokasi di Dusun Lendang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, kehadiran mahasiswa disambut dengan keterbukaan dan kehangatan warga. Jamuan sederhana khas desa menjadi simbol penerimaan, sekaligus gambaran kuat tentang budaya memuliakan tamu yang masih terjaga. Dari awal kedatangan, interaksi yang baik penuh keramahan mengawali keberlangsungan seluruh program pengabdian. Pendekatan kepada warga menjadi langkah awal yang ditempuh melalui malam tahun baru bersama warga, yang dikemas dalam suasana kebersamaan dan dzikir. Antusiasme warga terlihat nyata, mulai dari keterlibatan sejak persiapan hingga partisipasi penuh saat pelaksanaan melebihi ekspektasi yang ada. Mereka menyumbangkan beberapa ekor ayam, ikan, serta tempat yang diusahakan untuk membantu memeriahkan. Tak ini membuat kita kembali belajar bahwa untuk membantu dan berbagi tak perlu menunggu memiliki lebih, sebab apapun itu pasti berharga dan berarti. Pendekatan Edukatif pada Remaja dan Anak-Anaka Pada bidang pendidikan, mahasiswa KKM Mandiri melaksanakan psikoedukasi di SMPN 4 Jonggat dengan tema "Healthy Relationship". Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada remaja mengenai relasi yang sehat, komunikasi yang bertanggung jawab, serta pentingnya kesiapan emosional dan psikologis. Melalui pendekatan edukatif, program ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif dalam meminimalisir pernikahan dini, ataupun toxic relationship di berbagai lingkungan.  Nilai keagamaan dan kebersamaan turut diperkuat melalui peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang melibatkan anak-anak tingkat sekolah dasar dan warga Dusun Lendang. Berbagai perlombaan bernuansa islami menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mempererat hubungan antarwarga lintas usia. Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga ruang tumbuhnya semangat kebersamaan dalam suasana religius. Komitmen terhadap pendidikan keagamaan diwujudkan melalui pembelajaran Al-Qur’an dan kajian fiqih dasar di TPQ Masjid Nurul Hidayah. Kami turut mendampingi kegiatan mengaji serta memastikan materi fiqih dapat diakses secara berkelanjutan melalui buku kajian fiqih dasar yang telah dicetak dan ditempatkan di masjid. Keberadaan bahan kajian ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh anak-anak dan masyarakat setempat.e Kebersamaan dan Proses Belajar Bersama Sepanjang proses pengabdian, mahasiswa juga dihadapkan pada dinamika sosial yang menuntut sikap saling memahami dan menghargai. Ketika kegiatan tidak selalu berjalan sesuai rencana, komunikasi membantu dalam menemukan pemahaman. Dari situ, pengabdian dimaknai bukan hanya sebagai pelaksanaan program, tetapi juga sebagai latihan kesabaran, empati, dan kedewasaan dalam bersikap. Kebersamaan yang terjalin hingga momen penutupan menjadi penegas bahwa kehadiran mahasiswa bukan sekadar singgah, melainkan bagian dari proses saling belajar. Pengalaman di Desa Sukarara meninggalkan kesan mendalam bukan karena betapa sempurnanya atau betapa berdampaknya kita, tapi karena betapa berharganya pelajaran yang kita terima, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.