RAFA PRAMUDITA
Salah satu pengalaman paling berkesan selama kegiatan KKM adalah keterlibatan kami dalam kegiatan jalan sehat sebagai bagian dari upaya persiapan perjalanan haji yang sehat. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mengajak calon jamaah haji menyadari pentingnya menjaga kebugaran fisik sejak dini. Melalui jalan sehat, kami tidak hanya mendorong aktivitas fisik ringan yang aman, tetapi juga menyampaikan edukasi mengenai manfaat olahraga rutin bagi daya tahan tubuh. Kegiatan ini berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Mahasiswa dan calon jamaah haji terlihat antusias mengikuti jalan sehat sambil berinteraksi satu sama lain, sehingga tercipta lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat. Bagi saya, momen ini menjadi pengalaman berharga karena dapat melihat secara langsung respon positif calon jamaah haji terhadap edukasi kesehatan yang diberikan. Jalan sehat yang dilakukan bersama menjadi sarana efektif untuk membangun kesadaran bahwa persiapan haji tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga fisik. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa langkah kecil seperti jalan sehat dapat memberikan dampak besar bagi kesiapan calon jamaah haji. <elalui pengalaman tersebut saya jadi paham bahwa kesehatan merupakan modal penting dalam menjalankan ibadah haji dengan lancar dan optimal. KKM menjadi wadah pembelajaran yang bermakna dalam mengintegrasikan edukasi kesehatan dengan nilai-nilai ibadah.
BELLA CHUSNUL CHOTIMAH
Kehadiran kami dalam pengabdian KKM di Desa Sidodadi menemukan makna terdalamnya saat kami turut serta dalam kegiatan tahlil rutin bersama ibu-ibu di Dusun Umbul Rejo. Begitu memasuki kediaman warga, kami langsung disuguhi kehangatan melalui aroma sajian khas desa dan sambutan ramah dari ibu-ibu yang telah duduk melingkar dengan penuh keakraban. Suasana berubah menjadi sangat khusyuk ketika gema selawat dan rangkaian doa tahlil mulai dilantunkan secara bersama-sama, menghadirkan ketenangan batin yang selaras dengan sejuknya atmosfer Kecamatan Gedangan. Bagi kami, keterlibatan ini jauh melampaui tuntutan program kerja mahasiswa; ini adalah sebuah perjalanan emosional untuk memahami bagaimana tradisi religius mampu bertransformasi menjadi fondasi sosial yang sangat solid. Di sela-sela kekhidmatan doa, ruang dialog terbuka lebar melalui obrolan santai dan santap bersama yang penuh rasa kekeluargaan, yang secara perlahan menghapus jarak antara mahasiswa dan warga setempat. Partisipasi Rutinan Tahlil ini memberikan kami perspektif baru mengenai struktur sosial pedesaan yang ternyata dibangun atas dasar gotong royong yang tulus. Kami melihat bagaimana ibu-ibu di Dusun Umbul Rejo secara swadaya saling membantu dalam persiapan acara, menunjukkan bahwa tahlilan bukan hanya tentang aspek spiritualitas personal, melainkan juga bentuk nyata ketahanan sosial. Peristiwa ini memberikan pelajaran berharga yang sangat membekas bahwa inti dari harmoni hidup bertetangga adalah ketulusan untuk saling peduli, saling mendoakan, dan menjaga silaturahmi di tengah gempuran modernitas. Ini adalah bentuk kearifan lokal autentik yang nilainya jauh lebih besar dan lebih bermakna daripada sekadar teori-teori sosiologi yang kami pelajari di dalam ruang kelas formal manapun, sebuah bekal moral yang akan terus kami bawa bahkan setelah masa KKM ini berakhir.
AHMAD ARIFIN EKA RAHMANSYAH
Pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji. Setiap hari Senin kelompok kami melakukan visit ke kantor cjh untuk melakukan test kesehatan yakni: test gula darah, kolesterol, dan asam urat. Serta kelompok kami mencatat hasil dari pemeriksaan cjh tersebut. Visit ini kami lakukan selama satu bulan (4 kunjungan) dengan tujuan mencapai haji isthitho'ah. Insya Allah dengan program ini cjh bisa beribadah dengan sehat walafiat.
NISA` ARNIANTI
SINGOSARI, MALANG -- Jika Anda berkunjung ke perhelatan Pagentan Tempo Doeloe di Lapangan Tumapel, Singosari, ada satu pemandangan yang mencolok di antara deretan stand desa. Sebuah bangunan beratapkan rumbia dengan dekorasi tradisional lengkap dengan sebuah gong besar tampak berdiri gagah. Bukan sekadar estetika, stand ini ternyata menyimpan "harta karun" dari Desa Toyomarto. Rahasia kekayaan desa tersebut diungkap oleh kelompok mahasiswa KKM 90 Jagadhita Amarta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang saat berkunjung ke lokasi pada Selasa malam (27/12/2025). Kunjungan ini merupakan bagian dari misi pengabdian mereka yang akan berlangsung selama 40 hari di Desa Toyomarto. Etalase Kekayaan Industri Desa Di balik nuansa klasiknya, stand ini menjadi panggung bagi berbagai produk unggulan yang membuktikan kemandirian ekonomi warga Toyomarto. Pengunjung akan disambut dengan deretan batu cobek karakter yang unik, kain batik motif khas, hingga produksi kopi Arabika dan Robusta yang aromanya menyerbak. Tak hanya itu, Toyomarto juga memamerkan produk pangan kreatif seperti manisan permen jahe dan kunyit, serta aneka macam keripik. Semuanya adalah hasil produksi asli tangan warga desa yang dikelola secara turun-temurun maupun industri rumahan modern. "Tujuan utama kami ke sini adalah untuk melihat sekaligus membantu melariskan produk asli Toyomarto. Saat KKM, kami belajar bahwa potensi desa ini luar biasa, dan lewat event Pagentan Tempo Doeloe inilah semua kekayaan itu terpaparkan kepada masyarakat luas," ujar salah satu anggota KKM 90 Jagadhita Amarta. Belajar dari Semangat Para Pelaku UMKM Keseruan di stand ini tidak hanya terletak pada produknya, tetapi juga pada interaksi manusianya. Para pelaku UMKM dengan penuh semangat menjelaskan manfaat dan ciri khas produk mereka kepada setiap pengunjung yang datang. Kehadiran para mahasiswa KKM pun menjadi suntikan energi tersendiri bagi warga. Terjadi dialog dua arah: mahasiswa belajar proses produksi, sementara warga memberikan nasihat-nasihat bijak tentang kerja keras dan konsistensi dalam berwirausaha. Memadukan Budaya dan Hiburan Pagentan Tempo Doeloe sendiri berlangsung cukup lama, yakni dari 26 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Selain pameran antar desa yang edukatif, acara ini juga menghadirkan suasana pasar malam dengan berbagai wahana permainan, menjadikannya destinasi favorit bagi keluarga di akhir tahun. Bagi kelompok KKM 90 Jagadhita Amarta, pengalaman mengunjungi stand beratapkan rumbia ini menjadi momen penting untuk menyadari bahwa dukungan generasi muda sangat krusial dalam menjaga eksistensi budaya dan ekonomi lokal. "Budaya (gong dan rumbia) adalah identitas kita, dan produk lokal adalah kekuatan ekonomi kita. Kami bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan Desa Toyomarto," pungkas perwakilan kelompok KKM 90 Jagadhita Amarta tersebut.
ANA MUSTHOFANIE HIDAYAT
Foto ini diambil saat kami melakukan kunjungan ke rumah salah satu warga bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Momen ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama pelaksanaan KKM karena kami tidak hanya datang sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari proses pendampingan dan kepedulian kepada masyarakat. Dalam kegiatan ini, kami berdiskusi langsung dengan CJH mengenai kondisi kesehatan, aktivitas sehari-hari, serta kebiasaan hidup yang dijalani. Dari pertemuan ini, saya belajar bahwa pendekatan secara personal dan kekeluargaan sangat penting dalam menyampaikan edukasi kesehatan. Warga menjadi lebih terbuka untuk bercerita dan menerima masukan, terutama terkait pengelolaan tekanan darah, pola makan, dan aktivitas fisik. Kehadiran DPL juga memberikan semangat dan arahan bagi kami sebagai mahasiswa. Beliau tidak hanya memantau kegiatan, tetapi juga memberi contoh bagaimana berinteraksi dengan masyarakat secara sopan, empatik, dan profesional. Hal ini membuat saya semakin memahami bahwa KKM bukan sekadar kegiatan lapangan, tetapi juga proses pembelajaran karakter dan tanggung jawab sosial. Melalui kunjungan seperti ini, saya merasa semakin yakin bahwa peran mahasiswa di tengah masyarakat sangatlah penting. Pengalaman sederhana bertemu, berbincang, dan berbagi ilmu ternyata mampu memberikan dampak yang berarti, baik bagi warga maupun bagi kami sendiri sebagai calon tenaga kesehatan di masa depan.
MUHAMMAD THORIQ HIDAYAT
SINGOSARI, MALANG -- Isak haru dan rasa syukur mewarnai Balai Desa Toyomarto pada Rabu (4/2/2026) siang. Kelompok KKM 90 "Jagadhita Amarta" dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menutup masa pengabdian mereka setelah 45 hari bersinergi dengan masyarakat setempat. Jejak Keamanan di Tikungan Bodean Puthuk Bukan sekadar formalitas, kelompok yang beranggotakan 14 mahasiswa ini meninggalkan warisan nyata berupa pemasangan kaca cembung di area tikungan tajam Dusun Bodean Puthuk. Program ini menjadi salah satu prioritas karena menjawab keresahan warga terkait keamanan akses jalan di wilayah tersebut. "Kami berupaya masuk ke aspek yang paling dibutuhkan warga, salah satunya keamanan jalan. Selain itu, program ketahanan pangan dan Jumat Berkah juga menjadi jembatan kami untuk lebih dekat dengan keseharian masyarakat," ujar ketua KKM 90 dalam sambutannya. Prosesi Perpisahan yang Emosional Acara penutupan yang dimulai pukul 13.00 WIB ini dihadiri oleh jajaran perangkat desa, termasuk Bapak Anas (Sekdes) dan Bapak Irgi (Kasih Pelayanan Desa), serta didampingi oleh Bapak Rois Imron selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Suasana berubah khidmat saat memasuki sesi: Pelepasan Lanyard: Simbol bahwa masa tugas mahasiswa telah usai. Penyerahan Vandel: Sebagai tanda kenang-kenangan resmi untuk desa. Pemutaran After Movie: Menampilkan rangkuman perjalanan 45 hari mahasiswa di Toyomarto yang mengundang tawa sekaligus haru dari para tokoh masyarakat yang hadir. Ikatan Batin dengan Warga Meski standar masa KKM universitas adalah 40 hari, kelompok Jagadhita Amarta memilih untuk menambah durasi hingga 45 hari demi memaksimalkan program kerja. Kedekatan yang intens, terutama di Dusun Bodean Puthuk dan Bodean Krajan serta membuat warga merasa kehilangan. "Warga merasa sangat terbantu dan merasa sedih karena anak-anak sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Kami berharap mereka tidak memutus silaturahmi dan bisa kembali lagi ke Toyomarto suatu saat nanti," ungkap salah satu tokoh masyarakat. Harapan Keberlanjutan Bapak Anas selaku Sekdes Toyomarto menyampaikan apresiasinya terhadap dedikasi mahasiswa. Pihak desa berkomitmen untuk menjaga aset yang telah diberikan, seperti kaca cembung, agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh seluruh pengguna jalan. Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah (tasyakuran) sebagai wujud syukur atas lancarnya seluruh program kerja yang telah dijalankan.