LEYSHANDA DIASH WICAKSONO
SINGOSARI, MALANG -- Mengawali tahun 2026 dengan semangat baru, Taman Posyandu Tunas Ceria Desa Toyomarto menggelar rangkaian kegiatan bertajuk "Opening Taman Posyandu" pada 5-6 Januari 2026. Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan wadah edukasi komprehensif bagi para orang tua dalam mendidik anak dan mengelola kesejahteraan keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Dahlia 1 Toyomarto sekaligus Pembina Taman Posyandu Tunas Ceria, Ibu Ani Aziza, menjelaskan bahwa kegiatan "Opening" ini rutin dilakukan setiap enam bulan sekali sebagai momen transisi anak-anak kembali beraktivitas setelah masa liburan. Fokus pada Pola Asuh Positif Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah sesi parenting mengenai Pola Asuh Positif. Ibu Ani, yang telah mendapatkan pelatihan dari Save the Children (Yayasan Sayangi Tunas Cilik), turun langsung memberikan orientasi kepada para wali murid. "Tujuan utamanya adalah memberikan wawasan kepada wali murid tentang pola asuh positif. Saya ingin orang tua di sini berani memberikan pengasuhan yang lebih baik untuk tumbuh kembang anak," ujar Ibu Ani saat diwawancarai oleh mahasiswa KKM UIN Malang. Kolaborasi Edukasi: Dari Kesehatan hingga Literasi Keuangan Rangkaian acara selama dua hari tersebut dirancang sangat padat dan bermanfaat. Tidak hanya soal pola asuh, para orang tua dan anak-anak juga diajak untuk: Edukasi Kesehatan: Sosialisasi mengenai bakteri baik (Yakult) dan gerakan makan sehat bersama. Literasi Keuangan: Sosialisasi dari pihak Pegadaian mengenai investasi masa depan melalui saham dan emas. Perjalanan Sejak 2014 Taman Posyandu Tunas Ceria sendiri merupakan inisiatif yang berdiri sejak tahun 2014 atas kerja sama PKKPM dan PKK Desa Toyomarto. Meski saat ini masih dikelola secara swadaya di tingkat desa dan belum bertransformasi menjadi lembaga formal karena keterbatasan SDM digital, kualitas pembelajarannya tetap terjaga. "Secara dasar-dasar kepautan, teman-teman pengajar di sini insyaallah sudah berpengalaman dan pernah mengikuti pelatihan," tambah Ibu Ani. Dampak Nyata bagi Masyarakat Keberhasilan program ini terlihat dari antusiasme warga yang tinggi. Tercatat lebih dari 60 orang tua hadir dalam kegiatan tersebut. Dampaknya pun mulai dirasakan secara nyata, para orang tua mulai menerapkan pola asuh yang lebih positif, dan anak-anak menunjukkan perkembangan yang signifikan sebelum mereka memasuki jenjang sekolah formal (TK). Kegiatan yang didampingi oleh mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 90 "Jagadhita Amarta" ini diharapkan dapat terus menjadi motor penggerak pendidikan anak usia dini dan pemberdayaan perempuan di Desa Toyomarto.
FAHMI ZIDAN
MALANG -- Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar pertemuan dengan budayawan Syamsul Subakri, atau yang akrab disapa Mbah Karjo, pada Rabu (24/12/2025). Bertempat di Kampung Dolanan Senggayuh, kawasan Lombok Gambir, Dusun Bodean Putuk, Desa Toyomarto, para mahasiswa berdialog langsung dengan sang maestro mengenai pelestarian nilai-nilai luhur melalui permainan tradisional. Sosok Penjaga Tradisi Mbah Karjo dikenal luas sebagai seniman dan pengrajin wayang mendong (suket) yang karyanya telah diapresiasi hingga ke mancanegara. Kehadirannya di Kampung Dolanan Senggayuh memberikan nuansa berbeda bagi para mahasiswa untuk belajar langsung dari sumbernya mengenai kearifan lokal. Dalam diskusi tersebut, Mbah Karjo menegaskan bahwa fokus utamanya adalah edukasi berbasis pengetahuan setempat (local knowledge), di mana permainan dan lagu-lagu masa kecil digunakan sebagai media untuk menanamkan pendidikan karakter. Filosofi Dolan dan Dulinan Mbah Karjo mengenalkan kembali konsep dasar bermain yang sering terlupakan. Ia membedakan antara "dolan" dan "dulinan". "Dolan itu berarti anak pergi (bergerak), kalau dulinan dia stasioner, berhenti dan memainkan alat," jelasnya. Menurut Mbah Karjo, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menanamkan basic life skill atau keterampilan dasar hidup. Dalam bermain, anak diajarkan menghadapi realita kehidupan: ada kalanya menang, kalah, atau seri. Namun, nilai fundamental yang ditanamkan adalah integritas. "Satu hal yang tidak ditoleransi dalam permainan adalah kecurangan," tegasnya. Kejujuran dan Kecerdasan BatinSelain ketangkasan fisik, Mbah Karjo juga menekankan pentingnya kejujuran melalui filosofi permainan "pasaran" (jual beli). Ia menggambarkan bahwa meski uang dan barang yang digunakan dalam permainan adalah mainan, namun transaksinya adalah sungguhan. Hal ini mengajarkan anak untuk memegang komitmen dan berlaku jujur sejak dini. Lebih dalam lagi, Mbah Karjo mengajak mahasiswa menyelami konsep "Pangroso" atau indra keenam (batin). Baginya, kecerdasan tidak hanya soal intelektual, tetapi juga kepekaan hati. "Pangroso ini melengkapi panca indra. Ini mengajarkan kita untuk mengenali perasaan orang lain, kapan mereka sedih atau senang, sehingga tumbuh rasa empati," tuturnya. Harapan untuk Generasi Muda Melalui pertemuan di Kampung Dolanan Senggayuh ini, Mbah Karjo berharap nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang tergerus zaman. Ia mendorong mahasiswa sebagai generasi penerus untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, jujur, dan peka terhadap lingkungan sosialnya. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa KKM UIN Malang untuk turut serta melestarikan budaya dan mengimplementasikan filosofi-filosofi sederhana namun bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
FEBRY AGUS FERDIANSYAH
SINGOSARI, MALANG -- Suasana ruang kelas 5 SDN 2 Toyomarto mendadak hening. Isak tangis pelan mulai terdengar di antara para siswa, bahkan para mahasiswa KKM 90 Jagadhita Amarta Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pun tak kuasa menahan air mata. Pemandangan emosional ini menjadi puncak dari kegiatan Sosialisasi Pendidikan Karakter bertajuk "Membangun Karakter Unggul di Era Digital: Bijak Mengelola Screen Time" yang digelar pada Selasa (13/1/2026). Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi biasa. Di tengah gempuran arus informasi digital yang sulit disaring, anak-anak di desa Toyomarto diajak untuk kembali menengok "layar" yang paling nyata: wajah orang tua mereka. Menyaring Konten, Menata Karakter Ketua Kordes KKM 90, A Yogi Rama, dalam sambutannya menekankan bahwa di era gadget, sopan santun sering kali terkikis. Hal ini diperkuat oleh Febry Agus Ferdiansyah selaku Ketua Pelaksana. Ia menjelaskan bahwa sesi Screen Free Time selama 25 menit sengaja diadakan untuk menyadarkan siswa bahwa kecanduan gawai membuat mereka kurang bersosialisasi dan abai terhadap lingkungan sekitar. "Poin utamanya adalah bagaimana mereka bisa memilah mana yang positif dan negatif. Jangan sampai layar handphone menjauhkan mereka dari orang-orang yang paling mencintai mereka," ujar Febry. Pesan Mendalam di Balik Layar Melalui penayangan video pendek berjudul "Mana Janji Ayah" dan "Topi", para peserta diajak menyelami realitas tentang kerja keras orang tua. Video tersebut berhasil menyentuh sisi kemanusiaan para siswa, mengajarkan mereka untuk bersyukur dan menghargai setiap tetes keringat ayah dan ibu, tanpa harus merasa minder dengan kondisi ekonomi. Untuk mencairkan suasana yang sempat haru, panitia menyelipkan sesi ice breaking yang ceria sebelum melanjutkan ke edukasi mengenai dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan Di penghujung acara, Febry Agus Ferdiansyah memberikan wejangan yang sangat menyentuh hati: "Adik-adikku, dari video yang kita tonton tadi, kita belajar tentang satu hal penting: bersyukur. Kadang kita menuntut banyak hal karena gengsi, tanpa sadar betapa keras orang tua kita berjuang. Padahal, tidak ada satu pun orang tua di dunia ini yang ingin melihat anaknya susah atau merasa kurang dari yang lain. Ingatlah, apa yang kita miliki hari ini adalah hasil dari jerit payah dan doa ayah serta ibu. Selagi mereka masih ada, hargailah, sayangilah, dan jangan pernah menyakiti hati mereka. Karena penyesalan selalu datang belakangan, saat kesempatan untuk meminta maaf sudah tidak ada lagi. Mari kita juga belajar saling menghargai sesama teman. Jangan mengejek, jangan merendahkan, karena setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Jika ada teman kita yang kurang mampu, tugas kita bukan menghakimi, tapi membantu dan mendukung. Hari ini, mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk orang tua kita yang telah mendahului. Dan untuk ayah dan ibu yang masih berjuang mencari nafkah, mari kita kirimkan doa terbaik agar setiap tetes keringat mereka menjadi berkah. Nanti saat kalian pulang ke rumah, peluk ayah dan ibu kalian, minta maaflah dengan tulus. Mulailah hidup dengan karakter mulia: Salam, Salim, Senyum, Sapa, dan Sopan. Karena karakter itulah bukan gadget mahal yang akan membuat kalian menjadi manusia unggul." Acara ditutup dengan doa bersama dan pembacaan Al-Fatihah untuk orang tua yang telah mendahului, menyisakan tekad baru di wajah para siswa untuk lebih bijak bersikap, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
ANOV RAJA ARIFIN
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang saya ikuti berbeda dengan KKM yang biasanya dilaksanakan setiap hari dan langsung terjun ke desa(setau saya), tetapi pada KKM HIPE ini dilaksanakan selama satu bulan dengan sistem kunjungan rutin satu kali setiap minggu. Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pemeriksaan kesehatan serta pemberian edukasi kesehatan kepada Calon Jamaah Haji (CJH) sebagai persiapan sebelum keberangkatan ibadah haji. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara berkelompok oleh tim KKM. Setiap anggota memiliki peran masing-masing, baik dalam pemeriksaan kesehatan, penyampaian edukasi, maupun pendokumentasian kegiatan. Salah satu materi edukasi yang diberikan kepada CJH berkaitan dengan istitha’ah kesehatan, yaitu kesiapan kondisi fisik dan kesehatan seseorang untuk mampu melaksanakan ibadah haji tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Sebagai bagian dari upaya mendukung istitha’ah kesehatan tersebut, tim KKM saya yaitu kelompok 46 memberikan buku monitoring kesehatan kepada CJH. Buku ini digunakan sebagai alat pencatatan dan pemantauan kesehatan secara berkala. Adapun aspek yang dimonitor meliputi hasil pemeriksaan kesehatan, pola makan sehari-hari, pola tidur, serta jenis dan jadwal konsumsi obat. Melalui pencatatan ini, diharapkan kondisi kesehatan CJH dapat terpantau dengan lebih baik dari waktu ke waktu. Pada kegiatan ini, saya berperan sebagai salah satu anggota tim yang membantu dalam proses penyerahan dan penjelasan fungsi buku monitoring kesehatan kepada CJH. Foto yang ditampilkan merupakan dokumentasi saat proses edukasi dan penyerahan buku monitoring berlangsung. Meskipun dalam foto hanya terlihat saya dan CJH, kegiatan tersebut tetap merupakan bagian dari kerja tim KKM secara keseluruhan. Melalui kegiatan KKM ini, diharapkan CJH dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan dan memantau kondisi tubuh secara mandiri sebagai bekal dalam melaksanakan ibadah haji. Bagi saya, kegiatan ini memberikan pengalaman berharga dalam bekerja sama dalam tim, berinteraksi langsung dengan masyarakat, serta mengaplikasikan ilmu kesehatan yang telah dipelajari di bangku perkuliahan ke dalam praktik nyata di lapangan.
MUNGALIMATUL MUNYARIDA
Kelompok 90 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi diserahkan kepada Pemerintah Desa pada Selasa (23/12) di aula Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kegiatan penyerahan ini berlangsung di balai desa Toyomarto dan menjadi agenda awal pelaksanaan kegiatan KKM di desa tersebut. Penyerahan mahasiswa KKM dilakukan oleh pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) melalui Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kepada Kepala Desa Toyomarto, bapak Sumito. Acara ini juga turut dihadiri oleh Sekretaris Desa Toyomarto dan seluruh mahasiswa yang akan melaksanakan pengabdian di desa selama program KKM berlangsung. Dalam sambutannya, Kepala Desa Toyomarto menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak UIN Malang karena telah memilih Desa Toyomarto sebagai lokasi kegiatan KKM. Beliau berharap mahasiswa KKM dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan pengembangan masyarakat. Bersamaan dengan itu, dosen pembimbing lapangan, bapak Rois, menegaskan bahwa KKM berfungsi sebagai sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus belajar langsung dari masyarakat. Dalam acara ini sekaligus juga dilaksanakan penyerahan proposal program kerja oleh kelompok KKM kepada pihak desa. Proposal tersebut berisi rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan selama KKM berlangsung, sebagai bentuk koordinasi awal dengan pihak desa dan sebagai acuan kegiatan yang akan dilaksanakan di lapangan. Dengan dilaksanakannya acara penyerahan ini, mahasiswa UIN Malang secara resmi memulai program pengabdian kepada masyarakat di desa Toyomarto.
AULIYA ARIENI HALIM
Selama menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga melalui keterlibatan langsung dalam pendampingan tes kesehatan calon jamaah haji (CJH). Dalam kegiatan ini, saya tergabung dalam satu kelompok yang beranggotakan lima orang dan bertanggung jawab mendampingi dua orang CJH dengan riwayat penyakit diabetes dan asam urat. Tugas utama saya adalah melakukan intervensi kesehatan serta pengecekan kondisi kesehatan secara rutin setiap minggu. Kegiatan ini meliputi pemantauan kondisi fisik, pengecekan kesehatan sederhana, serta memberikan edukasi terkait pola hidup sehat yang perlu dijaga oleh calon jamaah haji. Melalui pendampingan ini, saya belajar pentingnya konsistensi dan ketelitian dalam menjaga kondisi kesehatan, terutama bagi CJH yang memiliki penyakit penyerta. Pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya, terutama dalam hal tanggung jawab, kerja sama tim, dan empati terhadap kondisi pasien. Melihat perkembangan kesehatan calon jamaah yang kami dampingi menjadi kepuasan tersendiri dan menumbuhkan rasa bangga karena dapat berkontribusi secara langsung. Kegiatan KKM ini tidak hanya memperkaya pengetahuan saya di bidang kesehatan, tetapi juga membentuk sikap peduli dan tanggung jawab sosial sebagai mahasiswa.