KHUSNATUN NADA
Pada hari Kamis, 29 Januari 2026, Kelompok 179 Artana melaksanakan kegiatan KKM Hari 37 berupa sosialisasi program kerja digitalisasi UMKM dengan metode kunjungan langsung secara door to door ke pelaku usaha di Kelurahan Talun. Kegiatan ini menyasar empat UMKM dengan bidang usaha yang berbeda, yaitu UMKM produksi jamur, tempe, marning, dan usaha katering. Pendekatan door to door yang dipilih agar sosialisasi dapat berjalan lebih personal, efektif, serta menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pelaku usaha. Dalam setiap kunjungan, mahasiswa KKM melakukan pendampingan secara langsung terkait pemanfaatan teknologi digital, khususnya dalam pembuatan dan penggunaan QRIS ( Quick Response Code Indonesian Standard ) sebagai sistem pembayaran non-tunai, serta pengelolaan WhatsApp Business sebagai media komunikasi dan pemasaran usaha. Sosialisasi dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami, disertai praktik sederhana agar pelaku UMKM dapat langsung memahami alur penggunaan fitur-fitur digital yang diperkenalkan. Selain itu, mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai manfaat digitalisasi dalam meningkatkan kemudahan transaksi, kepercayaan konsumen, serta efisiensi pengelolaan usaha. Melalui interaksi langsung di lokasi usaha masing-masing, mahasiswa KKM memperoleh gambaran nyata mengenai aktivitas produksi dan tantangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana penyampaian program kerja, tetapi juga ruang diskusi untuk saling bertukar pengalaman dan solusi. Yang pasti, melalui sosialisasi digitalisasi UMKM yang dilakukan secara door to door ini, para pelaku usaha di Kelurahan Talun dapat mulai mengadopsi teknologi digital secara bertahap guna mendukung keinginan dan pengembangan usaha mereka di tengah perkembangan ekonomi digital.
ALYANI SYAHIRA
Kegiatan Posyandu yang dilaksanakan di Dusun Umbulsari, Desa Kaliasri, menjadi salah satu momentum penting dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penimbangan dan pemeriksaan kesehatan balita, tetapi juga dirangkaikan dengan sosialisasi mengenai pencegahan stunting serta pentingnya pola asuh (parenting) yang tepat dalam keluarga. Sejak pagi hari, para ibu hadir bersama anak-anak mereka dengan penuh antusias. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif, sehingga Posyandu tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga ruang belajar bersama bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, para orang tua mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai pentingnya memperhatikan tumbuh kembang anak sejak usia dini. Dalam sosialisasi stunting, disampaikan bahwa pencegahan stunting tidak dapat dipisahkan dari peran orang tua, khususnya dalam pola pengasuhan anak. Salah satu poin utama yang ditekankan adalah pentingnya pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin melalui Posyandu. Ibu-ibu diajak untuk lebih aktif membawa anak ke layanan kesehatan terdekat sebagai langkah deteksi dini gangguan pertumbuhan. Selain pola asuh, materi sosialisasi juga menekankan pentingnya pola makan yang seimbang dan bergizi bagi anak. Asupan gizi yang cukup dan beragam menjadi faktor utama dalam mendukung pertumbuhan anak secara optimal. Para ibu diberikan pemahaman bahwa kebiasaan makan sehat perlu dikenalkan sejak dini dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pola makan yang baik, risiko terjadinya stunting dapat ditekan, sekaligus membantu membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga. Aspek sanitasi dan akses terhadap air bersih juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting. Anak-anak dibiasakan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebagai langkah sederhana menjaga kesehatan. Lingkungan yang bersih turut berperan dalam mencegah penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan anak. Sosialisasi ini mengingatkan bahwa kesehatan anak tidak hanya ditentukan oleh asupan makanan, tetapi juga oleh kebersihan lingkungan sekitar. Selain kesehatan fisik, sosialisasi parenting juga menyoroti pentingnya stimulasi kognitif dan pendidikan nilai sejak dini. Orang tua diajak untuk membiasakan anak membaca buku cerita, bermain edukatif, serta melibatkan anak dalam aktivitas sederhana di rumah. Melalui kegiatan sehari-hari tersebut, anak dapat belajar nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati yang menjadi fondasi pembentukan karakter di masa depan. Melalui kegiatan Posyandu dan sosialisasi ini, para ibu di Dusun Umbulsari memperoleh pemahaman bahwa tumbuh kembang anak merupakan proses yang saling berkaitan antara kesehatan fisik, emosional, dan lingkungan keluarga. Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama orang tua. Kesadaran akan pentingnya pencegahan stunting dan penerapan pola parenting yang tepat diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai pusat edukasi keluarga. Dengan sinergi antara masyarakat dan pendamping kegiatan KKM 67, diharapkan anak-anak Desa Kaliasri dapat tumbuh sehat, cerdas, dan berkembang secara optimal.
RAYHAN AGUNG PRADANA
Pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada: Menguatkan Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat Kegiatan pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 21 resmi dilaksanakan di Masjid Asy-Syuhada sebagai langkah awal dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Acara ini dihadiri oleh pengurus masjid, tokoh masyarakat, serta seluruh anggota KKM Kelompok 21 yang akan menjalankan program pengabdian selama periode KKM berlangsung. Pembukaan KKM ini menjadi momentum penting dalam membangun komunikasi awal antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Bertempat di lingkungan masjid yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial warga, kegiatan berlangsung dengan suasana khidmat namun penuh kehangatan. Masjid Asy-Syuhada dipilih sebagai lokasi pembukaan karena perannya yang strategis sebagai ruang berkumpul dan pusat interaksi masyarakat. Dalam rangkaian acara, perwakilan mahasiswa KKM Kelompok 21 menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan KKM, sekaligus memperkenalkan seluruh anggota kelompok kepada masyarakat. Mahasiswa menegaskan komitmen mereka untuk berkontribusi secara aktif, tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang siap belajar dan berkolaborasi. Penyerahan simbolis dari pihak kampus kepada pengurus masjid menjadi tanda diterimanya mahasiswa KKM Kelompok 21 secara resmi oleh masyarakat. Tokoh masyarakat dan pengurus Masjid Asy-Syuhada dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKM. Mereka berharap program-program yang dirancang dapat memberikan manfaat nyata, terutama dalam penguatan kegiatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga menaruh harapan agar mahasiswa mampu menjaga etika, sopan santun, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman selama berada di lingkungan desa. Kegiatan pembukaan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang awal untuk membangun kesepahaman bersama. Diskusi singkat antara mahasiswa dan tokoh masyarakat membuka peluang sinergi dalam merancang program yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan program KKM yang berkelanjutan dan berdampak positif. Melalui pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada, mahasiswa secara resmi memulai perjalanan pengabdian yang menuntut tanggung jawab, kedisiplinan, dan empati sosial. Kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Harapannya, kehadiran mahasiswa KKM tidak hanya meninggalkan jejak program, tetapi juga nilai kebersamaan, gotong royong, dan kebermanfaatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas.
MUTIARA AZ-ZAHRA
Menjelang malam, selepas azan Maghrib berkumandang, Masjid Baitul Mubtadiin kembali hidup oleh lantunan ayat suci. Di teras masjid, anak-anak masyarakat setempat duduk rapi, membuka mushaf, dan bersiap mengikuti kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang didampingi oleh mahasiswa KKM 128 UIN Malang. Kegiatan TPQ ini dilaksanakan di Masjid Baitul Mubtadiin dan berlangsung setiap hari setelah Salat Maghrib, kecuali malam Jumat, terhitung sejak 5 hingga 30 Januari. Program ini melibatkan rekan-rekan mahasiswa KKM 128 sebagai pengajar, dengan anak-anak masyarakat sekitar yang rutin mengaji di masjid. Pendampingan TPQ ini bertujuan untuk membantu pengajar TPQ setempat, sekaligus menjadi wujud nyata pengabdian masyarakat. Di tengah lingkungan yang heterogen, kegiatan ini juga berperan dalam menanamkan dan menguatkan nilai-nilai keislaman secara konsisten dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM berangkat ke masjid sejak azan Maghrib berkumandang untuk melaksanakan salat berjamaah bersama masyarakat. Setelah itu, kegiatan mengaji dilaksanakan di teras masjid dengan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Setiap harinya, dua mahasiswa KKM bertugas mengajar sesuai jadwal bergiliran yang telah ditentukan. Kegiatan TPQ diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pembelajaran membaca Al-Qur’an sesuai kemampuan masing-masing anak, dan ditutup kembali dengan doa bersama. Pola kegiatan yang teratur ini menciptakan suasana belajar yang lebih terarah dan kondusif bagi para santri. Melalui kegiatan TPQ ini, mahasiswa KKM 128 UIN Malang berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar, memperkuat budaya mengaji, serta menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an sebagai bekal spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
NIDA ISTAUFA FATIHA ILMIA
Mahasiswa Kelompok 88 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan edukatif ke sentra produksi gula merah di Dusun Napel, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat potensi ekonomi lokal yang telah menjadi warisan budaya turun-temurun di desa tersebut. Kunjungan yang dilaksanakan pada awal Januari 2026 ini disambut hangat oleh para pengusaha gula merah setempat. Para mahasiswa berkesempatan melihat langsung proses produksi gula merah dari hulu hingga hilir, mulai dari penggilingan tebu, pemasakan nira, hingga pengemasan produk akhir. Warisan Budaya yang Terus Berkembang Produksi gula merah di Desa Sukolilo merupakan warisan budaya yang diturunkan secara turun-temurun, menjadikannya lebih dari sekadar mata pencaharian bagi masyarakat setempat. Dusun Napel menjadi pusat produksi gula merah di Desa Sukolilo dengan kurang lebih 20 rumah produksi yang tersebar di seluruh dusun. Proses Produksi Modern dengan Sentuhan Tradisional Pemilik pabrik menjelaskan bahwa proses pembuatan gula merah meliputi beberapa tahap utama: penggilingan tebu untuk mengekstrak nira, penyaringan untuk membersihkan kotoran, pemasakan menggunakan mesin evaporator hingga mengental, pencetakan, dan pengemasan. Yang menarik, pada awal produksi, penggilingan tebu menggunakan alat dari kayu dan tenaga sapi. Sejak tahun 1982, tenaga sapi mulai digantikan oleh mesin diesel berbahan solar yang kemudian berganti dengan listrik. Transformasi teknologi ini menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan esensi produksi tradisional. Kapasitas Produksi dan Jangkauan Pasar Pemilik pabrik menjelaskan bahwa kapasitas produksi dalam satu hari dapat mencapai satu ton, dengan perbandingan 10 Ton tebu menghasilkan satu ton gula merah. Angka ini menunjukkan bahwa produksi gula merah membutuhkan bahan baku yang sangat besar, menjadikan ketersediaan tebu lokal sebagai faktor krusial. Ekosistem Ekonomi Tebu di Sukolilo
AULIA ZIHARA SHOFI
Bullying atau perundungan adalah salah satu permasalahan yang masih sering terjadi dan banyak ditemukan di lingkungan sekolah, terutama pada jenjang sekolah dasar. Hal ini dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap perkembangan mental, emosional, dan sosial anak, serta berkurangnya rasa percaya diri terhadap anak. Melihat pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, mahasiswa Kuliah Kerja mahasiswa (KKM) melaksanakan kegiatan edukasi atau seminar terkait Stop Bullying di SDN 1 Nglebeng. siswa sekolah dasar berada pada tingkatan pembentukan karakter. Pada usia ini, mereka perlu dibekali pengertian terkait sikap saling menghargai, menghormati perbedaan, serta akibat buruk dari perilaku bullying. Kurangnya pemahaman tentang bullying dapat mengakibatkan anak melakukan perundungan tanpa disadari bahwa perilakunya menyakiti orang lain. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi Stop Bullying sangat penting untuk ditanamkan nilai empati dan menghargai sejak kecil. Adanya kegiatan sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Nglebeng bertujuan untuk: Memberikan pemahaman dan pengertian kepada siswa tentang bullying dan lain-lain yang mengakibatkan dampak buruk pada teman. Menciptakan perilaku saling menghargai dan rasa kepedulian pada teman-teman. Mengajak atau mendorong siswa untuk berani berkata tidak pada bullying dan melapor guru jika melihat atau mengalami pembullyian. Kegiatan dilaksanakan di SDN 1 Nglebeng yang tertuju untuk siswa kelas satu sampai kelas 6. Cara yang digunakan sebagai berikut: Penyampaian materi secara sederhana dan memahamkan pelan-pelan kepada siswa. Cerita edukasi tentang stop bullying dan dan dampak dari hal tersebut. Diskusi dan sesi tanya jawab dengan siswa. permainan ringan atau contoh yang mengajarkan kerja sama dan empati. Siswa terlihat antusias dan semangat mengikuti kegiatan dan aktif menjawab pertanyaan dan bertanya terkait materi yang telah disediakan yang diberikan oleh mahasiswa KKN. Dari kegiatan ini, siswa lekas memahami bahwa bullying bukan hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga ejekan, hinaan, dan cacian serta kucilan. Siswa diajak untuk saling support dan membantu menjadi teman yang baik. Guru menyambut dengan baik kegiatan ini karena dapat membantu dalam membentuk karakter siswa di sekolah, serta memberi motivasi kepada murid-murid, agar menjadi lebih baik dan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif. Adanya kegiatan sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Nglebeng, diharapkan siswa bisa menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi semua. hal ini menjadi salah satu bentuk bantuan nyata mahasiswa KKN dalam mendukung pendidikan karakter sejak kecil. Semoga sosialisasi Stop Bullying bisa terus diterapkan pada kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah atau di luar sekolah.