LUTHFIYYAH SRI WURYANINGSIH
PONCOKUSUMO – Pada tanggal 28 Januari 2025 Pada program Kerja Mahasiswa (KKM) 35 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar seminar bertema "Pernikahan Dini dan Stunting" di MA Al Hidayah, Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, pada hari ini. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka pernikahan dini di wilayah tersebut, yang menjadi salah satu faktor pemicu stunting pada anak. Seminar yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi dan dewan guru MA Al Hidayah ini menghadirkan narasumber dari Koppatara (Korps Pelajar Penyuluh Anti Rokok) yang memberikan pemaparan komprehensif tentang bahaya pernikahan dini dan dampaknya terhadap kesehatan generasi mendatang. "Kami melihat pernikahan dini masih menjadi fenomena yang cukup tinggi di Desa Pandansari. Hal ini sangat berkaitan erat dengan masalah stunting, karena ibu yang menikah di usia muda biasanya belum siap secara fisik dan mental untuk mengandung dan membesarkan anak," jelas salah satu koordinator KKM 35. Narasumber dari Koppatara memaparkan bahwa pernikahan dini berisiko tinggi menyebabkan stunting karena kesiapan reproduksi remaja putri yang belum optimal. Kondisi gizi ibu yang masih dalam masa pertumbuhan, ditambah kurangnya pengetahuan tentang pola asuh dan nutrisi, menjadi kombinasi berbahaya bagi tumbuh kembang anak. Para peserta seminar tampak antusias mengikuti sesi tanya jawab dan diskusi. Beberapa siswa mengajukan pertanyaan seputar usia ideal menikah dan cara mencegah stunting sejak masa kehamilan. Kepala MA Al Hidayah menyambut baik kegiatan ini dan berharap seminar seperti ini dapat memberikan kesadaran kepada para siswa tentang pentingnya merencanakan masa depan dengan matang, termasuk dalam hal pernikahan dan kesehatan keluarga. "Semoga melalui edukasi ini, generasi muda kita lebih memahami pentingnya mempersiapkan diri dengan baik sebelum menikah, demi masa depan anak-anak Indonesia yang bebas stunting," tutup koordinator KKM 35.
ATHA SALSABILA PUTRI HUDA
Sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat, Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 35 Pandareka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjalankan program bimbingan belajar untuk siswa sekolah dasar di Desa Pandansari. Program yang dilaksanakan setiap Kamis dan Jumat malam ini menjadi salah satu program unggulan bidang pendidikan yang bertujuan membantu anak-anak dalam memahami materi pelajaran sekolah dengan lebih baik. Sebagai mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan, kami merasakan betapa program bimbel ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak di desa, mengingat banyak orang tua yang memiliki keterbatasan waktu atau kemampuan untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah setelah pulang dari sekolah. Antusiasme anak-anak menjadi energi tersendiri bagi kami. Meski lelah seharian bersekolah, mereka tetap datang dengan semangat membawa buku dan peralatan tulis. Dalam pelaksanaannya, kami tidak hanya mengajarkan cara mengerjakan soal, tetapi juga memberi pemahaman dengan memperhatikan bahwa setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Untuk membuat suasana belajar tidak membosankan, kami menggunakan berbagai metode pembelajaran yang menyenangkan, seperti menggunakan tebak-tebakan penjumlahan matematika, bermain tebak kata dalam bahasa Indonesia. Keceriaan anak-anak saat belajar menjadi indikator bahwa belajar tidak harus selalu serius dan menegangkan. Kami menghadapi berbagai tantangan, terutama perbedaan tingkat pemahaman antar siswa. Di dalam satu kelas bimbel, ada anak yang sudah lancar membaca dan lancar berhitung, tetapi ada juga yang masih kesulitan dengan teori dasar. Kondisi ini mengharuskan kami untuk lebih sabar dan kreatif dalam menyampaikan materi. Namun, setiap kemajuan sekecil apapun dari anak-anak adalah pencapaian yang patut disyukuri. Ketika seorang anak yang sebelumnya tidak percaya diri akhirnya berani menjawab pertanyaan, atau ketika anak yang kesulitan membaca mulai bisa membaca kalimat dengan lancar, itu adalah momen-momen berharga yang membuat kami merasa bahwa usaha kami tidak sia-sia. Bagi kami, program bimbel ini bukan hanya tentang membagi ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membangun hubungan emosional dengan anak-anak sebagai kakak dan teman. Anak-anak tidak malu bercerita tentang keseharian mereka di sekolah, teman-teman mereka, atau bahkan cita-cita mereka menjadi dokter, guru, atau polisi. Cerita-cerita polos itu mengingatkan kami pada tanggung jawab untuk memberikan bekal pendidikan yang baik. Program bimbingan belajar KKM 35 Pandareka di Desa Pandansari adalah bukti kecil bahwa mahasiswa dapat berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kami berharap program ini bisa dilanjutkan oleh angkatan KKM berikutnya atau bahkan dikembangkan menjadi program rutin desa, karena anak-anak di Desa Pandansari memiliki potensi luar biasa yang hanya membutuhkan pendampingan tepat untuk berkembang. Bagi kami sebagai mahasiswa, program ini memberikan pembelajaran berharga bahwa pengabdian bukan hanya tentang memberikan ilmu, tetapi juga tentang menerima pelajaran hidup tentang kesederhanaan, ketulusan, dan kebahagiaan dari anak-anak dan masyarakat desa. Melalui program sederhana namun bermakna ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi generasi penerus bangsa yang lebih baik, dimulai dari anak-anak Desa Pandansari.
NISRINA TAQILLAH
KKM Arunika Karsa 110 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan Peer Counseling bersama Remaja Masjid Muthohharun sebagai upaya menghadirkan ruang aman (safe space) bagi remaja dalam menghadapi persoalan psikososial yang mereka alami. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kesadaran remaja akan pentingnya dukungan sebaya dalam menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Kegiatan Peer Counseling ini menghadirkan Muhammad Gusti Baskara Najih dan Nayla Nur Safa Septiasa Putri sebagai pemateri. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pemahaman konseptual mengenai konseling sebaya, peran peer counselor, serta keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh remaja agar mampu menjadi pendengar yang empatik dan suportif bagi sesamanya. Secara konseptual, konseling dipahami sebagai hubungan interpersonal antara konselor dan konseli yang bertujuan membantu individu memahami dirinya, kondisi yang dihadapi, serta kemungkinan solusi atas permasalahan yang dialami. Dalam konteks konseling sebaya, peran ini dijalankan oleh individu non-profesional yang memiliki kedekatan usia, pengalaman, dan karakteristik sosial yang serupa, sehingga proses bantuan menjadi lebih setara dan mudah diterima. Pemateri menjelaskan bahwa peer counseling bukanlah praktik terapi profesional, melainkan bentuk dukungan awal berbasis empati, keterampilan mendengar aktif, dan komunikasi interpersonal. Remaja dilatih untuk membangun rapport, menjaga kerahasiaan, menghindari sikap menghakimi, serta memberikan ruang bagi konseli untuk menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Selain itu, disampaikan pula manfaat peer counseling bagi remaja, antara lain membantu pencegahan perilaku berisiko, meningkatkan keterampilan sosial, serta menciptakan iklim sosial yang lebih sehat di lingkungan remaja masjid. Dukungan teman sebaya dinilai lebih efektif karena remaja cenderung lebih terbuka dan nyaman berbagi cerita dengan rekan seusia dibandingkan dengan figur otoritas seperti guru atau orang tua Melalui kegiatan ini, KKM Arunika Karsa 110 UIN Malang berharap Remaja Masjid Muthohharun tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan masjid yang ramah, inklusif, dan peduli terhadap kondisi emosional sesama remaja. Peer counseling diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya saling mendukung dan memperkuat ketahanan mental generasi muda berbasis nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.
RYVA VALENTINO ROSYID ZIDAN
Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kelompok 35 menjadi salah satu bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan. Program ini dirancang sebagai upaya untuk membantu meningkatkan kualitas belajar anak-anak di desa melalui kegiatan bimbingan belajar (bimbel) yang terstruktur dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berperan aktif dalam memberikan dukungan akademik sekaligus motivasi belajar kepada peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kegiatan bimbingan belajar tersebut dilaksanakan di Kantor NU Desa Pandansari yang menjadi pusat kegiatan pendidikan nonformal selama program KKN berlangsung. Bimbel diadakan secara rutin setiap hari Kamis dan Jumat setelah waktu Maghrib, sehingga anak-anak dapat mengikuti kegiatan belajar tambahan di luar jam sekolah tanpa mengganggu aktivitas utama mereka. Suasana belajar yang santai namun tetap terarah menjadi ciri khas kegiatan ini, sehingga peserta merasa nyaman dan antusias dalam mengikuti setiap sesi. Materi yang diajarkan dalam bimbel mencakup berbagai mata pelajaran sesuai kebutuhan siswa, seperti matematika, bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan alam, pendidikan agama, serta pelajaran lainnya yang dianggap sulit oleh peserta. Mahasiswa KKN berusaha menyesuaikan metode pengajaran dengan tingkat kemampuan anak-anak, menggunakan pendekatan yang interaktif agar proses belajar tidak terasa membosankan. Selain itu, adanya komunikasi yang baik antara tutor dan peserta membuat proses belajar menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Salah satu tujuan utama dari program bimbingan belajar ini adalah mempersiapkan siswa Sekolah Dasar untuk mengikuti lomba cerdas cermat yang diselenggarakan oleh seluruh kelompok KKN di Kecamatan Poncokusumo. Oleh karena itu, selain membantu pengerjaan tugas sekolah, mahasiswa juga memberikan latihan soal, simulasi kuis, serta strategi menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga melatih rasa percaya diri, kerja sama tim, dan kemampuan berpikir kritis. Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran yang konsisten setiap pekan, bahkan beberapa siswa datang lebih awal untuk mempersiapkan materi yang ingin dipelajari. Dukungan dari masyarakat dan pengurus setempat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini, karena menyediakan fasilitas serta membantu mengajak anak-anak untuk berpartisipasi aktif. Kolaborasi antara mahasiswa KKN dan masyarakat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan kondusif. Melalui kegiatan bimbel ini, diharapkan anak-anak Desa Pandansari dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas dan memiliki kesiapan yang baik dalam menghadapi lomba cerdas cermat maupun tantangan akademik lainnya. Selain memberikan manfaat bagi peserta didik, program ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan mengajar, komunikasi sosial, serta meningkatkan rasa kepedulian terhadap dunia pendidikan di masyarakat. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mengimplementasikan nilai-nilai pengabdian dan pemberdayaan masyarakat selama pelaksanaan KKN.
RIZKINA AMANDA PUTRI
Bu Narti merupakan salah satu calon jemaah haji (CJH) yang kami dampingi selama pelaksanaan KKM. Beliau adalah seorang lansia yang tinggal seorang diri, dengan keterbatasan mobilitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sebagai mahasiswa yang baru pertama kali terjun langsung ke masyarakat, jujur saja saya sempat merasa khawatir, apakah kami mampu menjalankan program pendampingan ini dengan maksimal, terutama pada kondisi lansia seperti Bu Narti. Namun, segala keresahan itu perlahan pudar saat kami pertama kali berkunjung ke rumah beliau. Bu Narti menyambut kami dengan senyum hangat dan sikap yang sangat ramah. Bahkan, di tengah keterbatasannya, beliau masih menyempatkan diri menyiapkan suguhan yang dimasak sendiri untuk kami. Sambutan sederhana itu justru menjadi awal dari kesan mendalam yang sulit saya lupakan. Selama proses pendampingan, Bu Narti menunjukkan semangat yang luar biasa. Beliau menerima setiap edukasi kesehatan dengan sangat baik, rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran, serta berusaha konsisten melakukan olahraga ringan. Tekadnya untuk menjaga kesehatan demi bisa berangkat menunaikan ibadah haji benar-benar terasa kuat. Dari beliau, saya belajar bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang yang memiliki niat dan harapan besar. Menjelang berakhirnya program KKM, Bu Narti mengungkapkan kesedihannya. Beliau berharap kegiatan pendampingan ini bisa berlangsung lebih lama. Ungkapan sederhana itu justru menjadi momen paling menyentuh bagi saya, bahwa kehadiran kami bukan sekadar menjalankan program, tetapi juga memberi arti dan menemani seseorang yang selama ini menjalani hari-harinya seorang diri. KKM ini mengajarkan saya bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi juga tentang apa yang kita pelajari. Dan dari Bu Narti, saya belajar tentang keteguhan, ketulusan, dan arti harapan yang sesungguhnya.
SALSABILA AZZAHRA
Kabut pagi masih menyelimuti udara sejuk Bumiaji ketika kami, sepuluh mahasiswa, berkumpul di titik awal. Agenda hari itu adalah pendampingan jalan sehat untuk sepasang calon jamaah haji, suami istri yang akan berangkat musim depan. Namun, mereka tidak datang sendirian. Sepasang calon haji lainnya, teman satu kelompok mereka, ikut serta. Jadilah rombongan kami berjumlah empat belas orang. Rutenya cukup menantang: menyusuri jalanan berkelok dari Bumiaji, melewati kawasan Selecta, dan berujung di Coban Talun sebelum kembali pulang. Sebagai anak muda, kami tentu percaya diri. Sepatu hiking dan jaket sporti kami seolah menjamin ketangguhan. Awal perjalanan lancar. Kami sambil menikmati pemandangan kebun apel dan sayur. Namun, seiring jalan menurun dan mulai landai, ritme kami justru mulai tak karuan. Napas kami cepat tersengal, lutut mulai terasa berat. Sebaliknya, keempat bapak dan ibu itu berjalan dengan langkah terukur dan stabil. Topi haji putih mereka tampak tetap rapi, wajah mereka tenang, bahkan sesekali tersenyum sambil menikmati udara pagi. Mereka berjalan bagai punya cadangan energi tak berujung, sementara kami, di usia sepertiga mereka, sudah seperti mesin tua yang reyot. Kami terus berjalan, melewati gerbang Selecta yang masih sepi, lalu menyusuri jalan setapak menuju Coban Talun. Suara gemericik air terjun mulai terdengar, menyegarkan sekaligus menyadarkan betapa lelahnya kaki-kaki kami. Sesampainya di sana, kami langsung merebahkan diri di bebatuan dekat air terjun, menyerap keindahan alam yang menyejukkan. Keempat calon haji itu justru duduk dengan tenang, menikmati panorama sambil mungkin mengingat kebesaran Pencipta alam yang mereka akan segera kunjungi tanah suci-Nya. Perjalanan pulang terasa lebih berat. Medan yang didominasi tanjakan membuat otot betis kami berteriak. Kami tertatih-tatih, sementara langkah mereka tetap ajek, seolah beban usia dan tanjakan tak berarti apa-apa dibanding beban rindu mereka untuk bersimpuh di depan Ka'bah. Rasa malu dan kagum bercampur dalam diri kami. Setelah berjam-jam berjalan, akhirnya kami tiba kembali di titik awal. Tubuh kami lunglai, hanya ingin beristirahat. Namun, tiba-tiba dari dalam rumah calon haji pertama, tersiar aroma sedap yang menggugah selera. Kami diajak masuk. Sungguh di luar dugaan, di meja makan telah terhidang pesta kecil: nasi liwet hangat, ayam goreng lengkuas, sayur asem bening, sambal terasi, dan aneka lauk pendamping lainnya. Ternyata, sang istri telah mempersiapkan semuanya sejak subuh, sebelum perjalanan kami mulai. Kami makan dengan lahap dan penuh rasa syukur. Di balik rasa lelah yang mendalam, ada pelajaran sederhana namun mendalam tentang konsistensi, persiapan, dan keramahan yang tulus. Hari itu kami kalah secara fisik, tetapi kami pulang membawa sebuah pelajaran tentang stamina sejati yang tidak diukur oleh usia, melainkan oleh keteguhan hati dan tujuan yang luhur.